Istighfar : Kunci Menutupi Kelemahan

Terkadang manusia tidak menyadari akan perbuatan-peruatan yang telah dilakukan, apalagi perbuatan buruk atau dosa, seakan-akan manusia pada saat ini tidak memperdulikannya, tidak menghiraukannya. Namun, Ketika ia melakukan kebaikan, maka terkadang akan selalu teringat-ingat dikepalanya, bahkan sudah lama pun masih juga teringat.

Hakikatnya manusia memang mengalami suatu kelemahan dalam hal perbuatan buruk dan dosa ini, seyogyanya kita harus menyadari hal tersebut. Bahkan harus ada Upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan.

Allah swt berfirman :

يُّصۡلِحۡ لَـكُمۡ اَعۡمَالَـكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡؕ وَمَنۡ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيۡمًا

Dia akan memperbaiki amal-amalmu dan akan mengampuni bagimu dosa-dosa mu dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka sungguh ia akan meraih kemenangan besar. (Al Ahzab, 33:70)

Kemenangan besar disini adalah ia terbebas dari dosa dan hukuman Allah Ta’ala. Apasih yang dimaksud dengan istighfar? Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as bersabda “Umat muslim telah dianugerahi dua kemampuan; pertama, kemampuan untuk memperoleh ketaatan, dan kedua kemampuan untuk secara praktis menunjukkan kekuatannya tersebut. Kekuatan dapat diperoleh melalui istighfar (memohon ampunan) dan meminta pertolongan. Sama seperti halnya dengan orang yang berolah raga dengan mengangkat beban dan cara-cara lainnya, memohon ampunan juga dapat memperkuat jiwa dan meningkatkan keteguhan hati. Ghofur berarti menutupi; dengan demikian, dengan melakukan istighfar – memohon ampunan – dia berusaha untuk menaklukkan dan menutupi emosi dan nafsu yang menjauhkannya dari Allah Ta’ala.”

Allah swt berfirman :

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

Allah hendak meringankan beban darimu, karena manusia telah diciptakan lemah (An Nisa, 4:29)

Alasan mengapa Tuhan telah menurunkan syariat (agama) adalah karena manusia pada fitratnya leman dan tidak dapat menemukan sendiri jalan-jalan untuk mencapai kemajuan rohani. Tuhan telah melepaskan beban itu darinya. Ayat ini juga merupakan sanggahan terhadap ajaran Kristen tentang penebusan dosa yang menolak syariat dengan alasan bahwa manusia itu lemah. Islam mengemukakan bahwa pada hakikatnya kelemahan manusia justru merupakan alasan untuk turunnya syariat, agar dapat membantu manusia mencapai tujuannya yang tinggi. Oleh karena itu, syariat bukanlah suatu kutukan, melainkan pertolongan dan rahmat.

Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as bersabda : “Tidak diragukan lagi bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah, yang mengakibatkan mereka pasti akan gagal dalam memenuhi perintah-perintah tertentu. Hal ini tentu akan membuat Allah Ta’ala menerima tobat dari orang-orang yang sungguh-sungguh bertaubat.”

Oleh karena itu, banyak-banyaklah beristighfar untuk menutupi segala kelemahan dan dosa.

Jalan Kebahagian dan Keselamatan

 

Hadhrat Khalifatul Masih Al Khamis atba, tgl 29 September 2017

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba
Khalifatul Masih Al Khammis

 


فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

Dan jika kamu telah selesai mengerjakan shalat itu maka ingatlah Allah sambil berdiri, duduk dan sambil berbaring atas rurukmu. Dan apabila kamu telah merasa aman dari bahaya itu maka dirikanlah shalat sebagaimana mestinya. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman. (QS An Nisa, 4:104)

Setiap kali Allah Ta’ala telah mengarahkan perhatian pada shalat, Dia menekankan pada kedawaman, ketepatan waktu dan shalat berjamaah. Kita telah diperintahkan untuk menegakan Shalat (iqamatush shalah), dan secara harfiah berarti tegakanlah shalat tepat waktu dan secara berjamaah. Tapi yang teramati – semoga Majlis Ansharullah dapat meninjau melalui laporan, dan harus melakukannya - , meskipun mereka telah mencapai usia lanjut dan itu usia yang serius, mereka tidak memberikan perhatian kepada shalat berjamaah sebagaimana semestinya.

Maka dari itu, camkanlah kata-kata ini baik-baik, bahwa setiap anggota Majlis Ansharullah harus lebih banyak menaruh perhatian dibanding semua lainnya dalam kedawaman dan kedisiplinan melaksanakan shalat. Bahkan, setiap Naashir (individu Ansharullah) dari mereka harus menganalisa kondisi diri mereka masing-masing, dan berusaha keras untuk senantiasa dawam dalam melaksanakan shalat berjamaah. Ya Allah! Kecuali bila mereka sakit atau ada udzur (kendala). Dan semaksimal mungkin melaksanakannya di Masjid, Shalat Centre atau jika memang tidak memungkinkan lakukanlah shalat berjamaah dengan anggota keluarga di rumah. Hal tersebut pun guna membangun kesadaran tentang shalat berjamah dikalangan anak-anak dan para remaja.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan bahwa senjata yang menuntun kita pada sebuah kemenangan adalah doa (Shalat). (Malfuzat, Vol 9, hal 28 edisi 1985, UK). Jadi, untuk menjadi seorang penolong Allah (Ansharullah) sesuai makna kalimat sepenuhnya, perlu untuk menggunakan senjata shalat. Pergunakanlah senjata doa dengan cara yang telah Allah Ta’ala beritahukan kepada kalian. Jika memenuhi hal itu maka kita akan menjadi orang-orang yang menunaikan hak baiat Hadhrat Masih Mau’ud as tapi jika tidak beliau as bersabda berkali-kali: “Jika kalian tidak mengindahkan kata-kata saya dan tidak menanamkan perubahan suci pada diri kalian serta tidak memenuhi hak-hak ibadah, tidak ada gunanya baiat kalian.” (Malfuzat, Vol 10, hal 140 edisi 1985, UK).

Masing-masing Naashir (individu Ansharullah) harus memeriksa dirinya sendiri secara tertentu untuk sejauh mana ia kokoh dalam shalat-shalat dan sejauh mana menyajikan keteladannya bagi anak-anaknya, lalu bagaimana keadaan halat-shalatnya dan mutunya, apakah shalat-shalat dia lakukan seperti dikenakan secara paksa bagai menanggung bebanbebannya atau dia lakukan benar-benar untuk meraih ridha Allah ta'ala. Hadhrat Masih Mau’ud as dalam banyak kesempatan dan dengan berbagai cara berkali-kali menarik perhatian kita kepada pentingnya Shalat, menguraikan kewajiban shalat, hikmah pelaksanaan shalat, tujuan di balik penunaian shalat, falsafah dibalik shalat serta waktu pelaksanaan shalat tersebut. Hari ini saya hendak menyampaikan kutipan-kutipan sabda beliau yang menguraikan tema pentingnya shalat dan hikmah di balik itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda : “Dirikanlah shalat secara teratur dan tepat waktu. Ada orang-orang yang merasa cukup dengan melakukan shalat hanya sekali dalam sehari. Mestinya mereka menyadari tidak ada manusia yang dikecualikan dari ketentuan tersebut, tidak juga para Nabi. Diutarakan dalam sebuah Hadits bahwa sekelompok orang yang baru saja baiat ke dalam Islam, memohon kepada Hadhrat Rasulullah saw agar dibebaskan dari kewajiban melakukan shalat. Beliau saw bersabda: ‘Agama yang tidak menuntut suatu kewajiban, bukanlah suatu agama sama sekali.” (HR Abu Dawud)

 Lakum ala tuhsyaru wala tu’syaru wala tujabu wala khairo fi diin laisa fi ruku’un

Kalian bisa meminta keringanan untuk tidak berangkat jihad, tidak memberikan sepersepuluh harta, dan tidak ditugaskan memimpin kalian selain dari kalian sendiri. Kemudian beliau bersabda, Namun, tidak ada kebaikan dalam satu agama yang tidak ada ruku’ (Kewajiban shalat) padanya.

Kemudian, beliau as menjelaskan hakikat shalat, kepentingannya dan bagaimana manusia memerlukan shalat dan bagaimana seharusnya, “Apa Shalat itu? Shalat merupakan bentuk doa yang khas. Namun orang-orang menganggapnya seperti pajak yang dibebankan oleh Raja (pemerintah). Mereka yang beranggapan seperti itu merupakan tuna ilmu. Mereka tidak memahami Allah Ta’ala Yang tidak memerlukan siapapun dan apa pun, apa Dia perlu bila seseorang berdoa, bertasbih (menyatakan kesucian-Nya) dan untuk menyatakan tiada yang patut disembah kecuali Dia (tahlil)?

Tidak demikian! Sebaliknya, ini demi kebaikan dan faedah bagi manusia itu sendiri yang akan tercapai apa yang dimintanya dengan cara ini.” (Artinya, manusia akan memenuhi keperluan-keperluannya dengan cara shalat-shalat; tujuan hidup dan apa yang dicarinya pun tercapai dengan cara ini)

Saya sungguh sedih melihat orang-orang pada masa ini tidak memberikan perhatian untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan tidak ada lagi ketakwaan, kesalehan dan kecintaan terhadap agama di dalam diri mereka. Ini akibat pengaruh umum beracun sikap taqlid (beragama karena tradisi atau ikutikutan). Hal ini juga yang telah membuat beku kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala. Orang-orang tidak memperoleh kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya sebagaimana seharusnya.

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang Allah Ta’ala tidak berikan unsur kenikmatan dan kelezatan di dalamnya. (Artinya, Allah Ta’ala menjadikan di tiap sesuatu kelezatan khusus dan jenis istimewa kenikmatan) Seperti halnya seseorang yang sedang sakit, ia tidak bisa menikmati makanan yang lezat bahkan malah merasakan pahit atau hambar. (makanan di mulut orang yang sakit berubah rasanya karena ia tidak mampu merasakan rasa makanan. Inilah yang kita perhatikan di kebanyakan orang sakit).

Oleh sebab itu, bagi yang bisa tidak merasakan kenikmatan dalam ibadah kepada Allah Ta’ala, maka perhatikanlah penyakit rohani kalian. (Artinya, orang yang tidak merasakan kenikmatan dalam shalat berarti ia sakit ruhani) Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang Allah Ta’ala tidak berikan unsur kenikmatan dan kelezatan di dalamnya. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, jadi bagaimana mungkin tidak terdapat unsur kelezatan dan kenikmatan di dalamnya! Kenikmatan itu sungguh ada hanya jika ada orang-orang yang menikmati dan merasakan kelezatannya. Allah Ta’ala telah berfirman : ” Dan, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Adz-Dzariyat, 51:57]

Karena manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, maka pasti ada kelezatan dan kebahagiaan sampai batas tertinggi di dalam ibadah tersebut. (Hendaknya ada kenikmatan dan kegembiraan hingga ke derajat yang setinggitingginya dala beribadah. Jika tidak demikian, sedangkan jika Allah Ta’ala telah menciptakan manusia tanpa tujuan sedangkan manusia tidak merasakan kenikmatan dan keuntungan dalam beribadah kepada-Nya maka bagaimana mungkin manusia dapat beribadah.)

Hal ini dapat dipahami dengan baik melalui kesaksian dan pengalaman kita sehari-hari. Telah disediakan bagi manusia berbagai macam tanam-tanaman, makan-makanan dan minumminuman. Apakah tidak ditemukan kenikmatan dan kelezatan di dalamnya? Tidakkah untuk bisa merasakan kelezatan berbagai jenis makanan itu, manusia pun diberikan indra perasa lidah. Demikian pula, bukankah manusia dapat memperoleh kenikmatan dengan melihat keindahan alam, hewan, manusiadan lain-lain? Bukankah manusia dapat merasakan kenikmatan mendengar suara yang merdu? Lalu dalil apalagi yang diperlukan untuk membuktikan adanya kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya?

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda : “Ingatlah selalu bahwa shalat ialah perkara yang dapat memperbaiki dunia dan agama sekaligus. Namun, shalat yang dilakukan mayoritas orang mengutuki (melaknati) mereka sendiri ialah sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah Ta’ala

’Kehancuranlah bagi orang-orang yang shalat dengan lalai terhadap hakikat shalat’ (Surah Al-Ma’un, : 5-6).

Shalat ialah sesuatu yang jika ditegakkan membuat seseorang terlindungi dari segala jenis keburukan dan kekejian. Namun, seseorang takkan mampu menegakkan shalat dengan kekuatan yang membantunya. Itu takkan datang tanpa pertolongan dan naungan perlindungan Allah. khusyu’ dan kerendahhatian pun takkan dapat kontinyu tanpa doa. (untuk menunaikan shalat dan meraih kedudukan ini harus menghindari keburukan-keburukan, meraih karunia Allah Ta’ala, khusyu’ dan khudhu’) Maka dari itu, janganlah melewatkan siang hari dan malam hari kalian tanpa ada waktu untuk berdoa.”

 

 

 

Khotbah Jumat Hadhrat Khalifatul Masih Al Khamis atba

Jalsah Salanah UK 2023, 


Khalifah Ingatkan Petugas dan Tamu Tentang Tanggung Jawab Moral

 

JALSAH SALANAH UK (MTA INTERNASIONAL)

Inggris- Hadeeqatul Mahdi, Jumat, 28 Juli 2023: Hari ini, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V aba menyampaikan Khotbah Jumat di Jalsa Salana UK 2023. Huzur aba menyoroti para petugas Jalsa dan para tamu terhadap tanggung jawab mereka dan tujuan Jalsa Salana, sebagaimana yang ditetapkan oleh Masih Mauud yang dijanjikan.

Berikut adalah ringkasan singkatnya:

Pertemuan tahunan Komunitas Muslim Ahmadiyah UK, Jalsa Salana, telah dimulai. Jalsa Salana telah diadakan di Inggris selama hampir empat dekade dengan kehadiran para Khalifah. Jalsa Salana Inggris pada awalnya dimulai dengan bimbingan Hazrat Khalifatul Masih IV rh, Mirza Tahir Ahmad. Jalsa Salana pertama berlangsung pada tahun 1985 dengan sekitar 5.000 peserta. Sekarang, bahkan pertemuan organisasi pemuda (Khuddam) dan wanita (Lajnah) memiliki jumlah peserta yang lebih banyak.

Meskipun Jemaat Ahmadiyah Inggris memiliki pengalaman luas dalam mengorganisir Jalsa Salana, ada beberapa kekhawatiran menampung lebih dari 40.000 orang, tahun ini di bagian administrasi. Namun, Huzur aba tetap optimis, melihat keahlian dan dedikasi generasi saat ini. Setelah memeriksa persiapan pada hari Minggu, Huzur aba merasa yakin dengan dedikasi dan keakraban para petugas dengan tanggung jawab mereka.

Huzur aba menekankan bahwa kesuksesan bukanlah karena keterampilan individu tetapi karena rahmat Allah. Dia mengimbau para petugas bekerja bekerja dengan upaya dan moral terbaik serta berdoa agar dimudahkan. Mereka harus melayani para tamu Masih Mauud dengan tulus. Para petugas tidak hanya berfokus pada tanggung jawab saja, tetapi juga memperhatikan kerohanian dan ibadah mereka.

Mengenai para tamu, Huzur aba mengingatkan untuk tidak menganggap remeh atau biasa perkataannya; sebaliknya, dengarkan petugas dengan penuh perhatian dan patuhi.

Tujuan utama menghadiri Jalsah Salanah bukan sekedar perayaan duniawi tetapi untuk meningkatkan kerohanian, akademik, dan moral. Dengan berfikir, meski terdapat kekurangan organisasi, tamu tidak akan terpengaruh secara signifikan. Para peserta Jalsa Salana kembali diingatkan bahwa pertemuan ini bukanlah festival duniawi melainkan pertemuan spiritual dengan tujuan meningkatkan kerohanian, akademik, akhlak, dan pendidikan. Tujuannya adalah untuk memperdalam kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Memiliki pola pikir ini membantu para peserta mengabaikan kekurangan organisasi.

Jalsah Salanah menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang sejarah Jemaat Ahmadiyah dan meningkatkan pemahaman agama, seperti toko buku Isya’at serta pameran oleh Makhzan-e-Tasaweer, Review of Religions, Departemen Tabligh dan Pusat Arsip dan Penelitian Ahmadiyah, dll.

Para peserta didorong untuk tidak fokus pada kenikmatan duniawi saja, tetapi harus larut dalam pertemuan Jalsah. Alih-alih berbelanja atau berkeliling, mereka harus mendengarkan pidato-pidato dan mengambil manfaat dari berbagai pameran, dll.

Dalam hal kekurangan, terutama terkait makanan, para peserta diharapkan dapat bersikap pengertian dan sabar, mengingat para petugas merupakan sukarelawan dari berbagai profesi. Jadikan pedoman, contoh dari kesabaran Masih Mauud dalam menghadapi kekurangan pelayanan.

Para tamu diingatkan bahwa menunjukkan standar moral yang tinggi adalah tanggung jawab setiap orang, bukan hanya petugas. Setiap orang, termasuk perempuan dan laki-laki, harus menunjukan perilaku terbaik, memahami bahwa senyuman pun dianggap sebagai bagian dari iman. Ajaran Hazrat Masih Mauud menggarisbawahi pentingnya mengutamakan kenyamanan orang lain daripada diri sendiri. Keyakinan sejati seseorang adalah mendahulukan orang lain, terutama ketika berhadapan dengan kenyamanan atau keuntungan pribadi.

Jalsa Salana bukan hanya sekadar konvensi biasa; ini adalah pertemuan spiritual yang dimaksudkan untuk refleksi, peningkatan diri, dan memperkuat persaudaraan. Dengan tidak mematuhi prinsip-prinsip ini, anda tidak hanya merugikan kerohanian anda sendiri tetapi juga menghilangkan suasana damai dan penuh keberkatan dalam pertemuan ini.

Penting untuk memahami bahwa Hazrat Masih Mauud as telah memberikan petunjuk ini kepada kita bukan sebagai beban, tetapi sebagai pengingat untuk menyucikan diri dan orang sekitar. Kita harus melihatnya sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kerohanian diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Jika membiarkan ego, kemarahan, dan prasangka mengendalikan kita, maka kita akan kehilangan berkat dari nasihat ini.

Penting untuk dipahami bahwa Hazrat Masih Mauud as telah memberikan petunjuk ini kepada kita bukan sebagai beban, tetapi sebagai cara untuk menyucikan diri kita dan orang sekitar. Kita harus melihatnya sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kerohanian diri dan orang di sekitar.Jika membiarkan ego, kemarahan, dan prasangka mengendalikan kita, maka kita akan kehilangan berkah besar yang datang dari mengikuti nasihat ilahi ini.

Janganlah menyia-nyiakan waktu untuk perselisihan dan perbedaan pendapat yang sepele. Sebaliknya, mari alihkan energi kita untuk membangun ikatan cinta, pengertian, dan persatuan. Untuk setiap momen yang dihabiskan dalam kemarahan atau kebencian, maka kita akan kehilangan momen berharga yang seharusnya bisa dihabiskan dalam cinta dan pengkhidmatan.

Oleh karena itu, sebagai peserta dan tuan rumah Jalsa Salana, ini adalah tanggung jawab kolektif menjadikan tiga hari ini berarti. Untuk memastikan bahwa lingkungan ini dipenuhi dengan kerohanian, cinta, dan rasa saling menghormati. Dan jika, suatu ketika mendapati diri bimbang, mari ingatkan diri sendiri akan ajaran indah Hazrat Masih Mauud as dan mengingat niat awal menghadiri Jalsah kembali.

Semoga Allah Ta’ala membantu kita semua untuk benar-benar mewujudkan ajaran ini, bukan hanya selama Jalsa Salana tetapi dalam setiap aspek kehidupan kita. Dan semoga Dia memberkahi pertemuan ini dengan rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Amin.

 

Diterjemahkan dari: Huzoor reminds workers and guests of their responsibilities during Friday Sermon at Jalsa Salana UK 2023

Surat Dari Pangeran Charles R


 

Mohon sampaikan ucapan terima kasih dari saya yang paling dalam kepada Jemaat Ahmadiyah Inggris untuk acara Jalsah mereka yang dilaksanakan hari ini 28 Juli- 30 Juli 2023 di Hadiqatul Mahdi, Oaklands Farm, Hampsire.

Saya sangat menghargai pesan anda dan saya menghormati dukungan anda yang terus berlangsung.

Pertemuan ini yang akan datang ini adalah sangat penting. menjadi salah satu yang penting di zamannya.

Saya tertarik karena Yang Mulia Hadhrat Mirza Masroor Ahmad akan hadir di pertemuan ini dan akan memberikan pidato setiap harinya selama pertemuan tiga hari ini.

Untuk itu saya ingin mengucapkan selamat kepada anda sekalian untuk pertemuan yang penuh kenangan dan menyenangkan ini.

Charles R

28 Juli 2023

Janji Ansharullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku berjanji akan berjuang sampai akhir hayatku untuk memperkokoh dan menyebarkan Islam Ahmadiyah serta menjaga kutuhan Nizam Khilafat.

Dalam menunaikan tugas ini aku bersedia untuk memberikan pengorbanan yang sebesar-besarnya.

Aku senantiasa akan menganjurkan dan mengajarkan kepada keturunanku untuk tetap setia kepada Khilafat

InsyaAllah

 

Janji khuddam

 اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اَللّٰهُ وَهْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً اَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutunya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya

Aku berjanji setiap saat bersedia mengorbankan jiwa raga, harta, waktu dan kehormatanku untuk kepentingan Agama, Nusa dan Bangsa.

Aku bersedia menghadapi segala pengorbanan untuk tetap berdirinya Khilafat Ahmadiyah.

Aku akan taat kepada segala keputusan ma'ruf dari Hadhrat Khalifah.

Insya Allah 

Hidangan Istimewa shalat maghrib dan subuh berjamaah

 مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ” (صحيح البخاري، كتاب الأذان).

Di dalam sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah r.a.; Hadhrat Rasulullah Saw bersabda: ‘Barangsiapa yang datang ke Masjid di waktu Fajr ataupun Maghrib, maka Allah Ta’ala akan menyiapkan suatu sambutan ramah tamah yang baik baginya di alam surga al-Jannah sebanyak ia datang ke Masjid, baik di waktu Fajr maupun Maghrib.’ (Bukhari).

Kesederhanaan ala Hadhrat Umar ra

Hidup sederhana merupakan salah contoh perilaku akhlak Rasulullah saw, di dalam diri beliau tidak ada kelezatan yang lebih hakiki selain menikmati keasyikan beribadah kepada Allah Ta’ala.

Begitu erat dan dekatnya hubungan Rasulullah saw dengan para sahabatnya, sehingga para sahabat pun selalu mencontoh apa-apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.

Itulah yang terjadi dalam diri Hadhrat Umar bin Khattab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu senantiasa mengedepankan hidup sederhana. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

suatu kali, putri Hadhrat ‘Umar radhiyAllahu ta’ala ‘anhu yang bernama Hafshah radhiyAllahu ta’ala ‘anha berkata kepada Ayahnya, “Selain dikaruniai Allah Ta’ala dengan keluasan rezeki, Ayah telah diberikan kemenangan dan kekayaan, jadi mengapa Ayah tidak makan makanan yang lebih baik dan memakai pakaian yang lebih baik?”

Hadhrat ‘Umar (ra) menjawab dengan bertanya kepadanya, “Apakah Nabi (saw) tidak menanggung kesulitan besar selama hidupnya? Sejauh saya mampu, saya akan terus menanggung kesulitan, seperti dua orang sebelum saya telah alami, Nabi (saw) dan Hadhrat Abu Bakr (ra), sehingga memungkinkan saya juga dapat menuai berkat karunia yang sama.”

Kemudian Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Anggota keluarga saya hanya berhak atas diri saya dan harta saya. Tetapi mereka tidak berhak atas agama dan amanat saya.”

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz mengutip riwayat dari Hadhrat Ikrimah bin Khalid yang menjelaskan bahwa suatu ketika, anak-anak Hadhrat ‘Umar (ra) dan beberapa orang lainnya berkata kepadanya, bahwa jika beliau makan makanan yang lebih baik, beliau akan menjadi lebih kuat dan lebih mampu memenuhi tugasnya. Hadhrat ‘Umar (ra) mengerti saran baik mereka, namun beliau mengatakan bahwa jika beliau meninggalkan jalan orang-orang sebelum beliau, yaitu Nabi Muhammad (saw) dan Hadhrat Abu Bakr (ra), maka beliau tidak akan dapat mencapai peringkat yang sama.

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz mengutip dari Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra), yang menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad (saw) adalah masa penuh cemas dan bahaya yang dengan melihat pertimbangan itu, Nabi Muhammad (saw) mengajarkan perlunya kesederhanaan, dan mengatakan bahwa saat makan, tidak boleh ada lebih dari satu hidangan lauk. Sebagian dari para sahabat mengikuti ini dengan sangat rigid (kaku dan kukuh), pada kenyataannya, pernah Hadhrat ‘Umar (ra) disajikan dengan lauk cuka dan garam bersama-sama. Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa ini adalah dua hidangan terpisah dan beliau hanya akan mengambil satu. 

Meskipun yang dilakukan Hadhrat ‘Umar (ra) ini merupakan sikap berlebihan yang disebabkan gejolak kecintaan mendalam kepada Rasulullah (saw) dan tampaknya bukan seperti demikianlah yang diinginkan oleh Rasulullah (saw), namun dari contoh ini secara pasti diketahui bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) memandang perlunya kesederhanaan di dalam umat Muslim. 

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) saat itu mengumumkan gerakan Tahrik Jadid. Saat itu jemaat sangat memerlukan dan beliau mencetuskan untuk mengurangi pengeluaran pribadi dan memberikan candah. Dengan karunia Allah Ta’ala, saat ini keadaan telah berbeda sehingga saat ini tidak diharuskan demikian. Namun tetap, hendaknya tidak berlaku berlebih-lebihan.

Hadhrat Masih Mauud as bersabda "kelezatan besar terdapat dalam hal ini. Yakni manusia memahami Wujud Allah, dan mengenali Rasul dengan benar. Manusia hendaknya mencari penghidupan mereka sebatas dapat menjalani hidup ala kadarnya (sederhana). Dan jangan mengejar-ngejar banyak sekali keinginan dunia. (Malfuzhat) 

Hubungan Ruh dan Tubuh adalah Abadi

Orang atheis mengingkari ruh, dan mengatakan bahwa ruh itu tidak ada artinya sedikitpun. Kemudian mereka mengatakan "kebangkitan (di akhirat) tidak ada artinya. Di sini ruh memperoleh pengajaran, lalu apa yang akan dilakukannya di masa mendatang. Ini semua adalah khayalan, dan tidak ada logika di dalamnya".

Jika ruh itu tidak ada artinya sedikitpun. Maka mengapa bila terjadi sesuatu pada tubuh lalu dampaknya timbul pada potensi-potensi batin. Misalnya, jika terjadi luka pada otak, maka akibat kerusakan itu manusia jadi gila, atau daya ingat berkurang.

Ruh orang-orang gila tetap ada, kerusakan yang terjadi adalah pada tubuh. Jika sistim tubuh tidak baik, maka ruh pun menjadi tidak berguna. Ruh tidak dapat berfungsi tanpa tubuh.

Oleh karena itu, ruh senantiasa membutuhkan tubuh. Suatu tubuh yang sistimnya baik, maka kondisi rohaninyapun akan baik. Mengapa pada diri anak-anak kecil belum ada pemahaman tentang akibat-akibat berbagai hal? Sebabnya adalah, di dalam diri mereka potensi itu belum tumbuh secara sempurna.

(Malfuzhat, jld 4, H. 431)

Ihwal Penentuan Suatu Hari Raya Id

Pada artikel kali ini saya ingin menyajikan “Q&A Liqa Ma’al Al Arabiyyah Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV rh. Berkenaan dengan penentuan atau menetapkan suatu hari raya. Berhubung Agama Islam ini tengah menyebar luar ke seluruh penjuru dunia. Apakah harus serempak pelaksanaan hari raya dengan negara Arab Saudi?

Terkait dengan hal ini ada seseorang yang bertanya kepada Hadhrat Khalifatul Masih IV rh yakni: “Besok (Jum’at, 17 Maret 2000) insya Allah kita akan merayakan Idul Adha bersama seluruh Jemaat di UK (United Kingdom). Begitu pula kaum muslimin lainnya. Bagaimanakah hubungannya dengan perayaan Idul Adha di Arab Saudi?”

Hudhur rh bersabda: “Sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia meyakini, bahwa mereka harus mengekor ke Arab Saudi. Oleh karena Arab Saudi merayakan Idul Adha pada hari ini (Kamis, 16 Maret 2000). Maka mereka pun merasa harus demikian.”

“Tetapi ada lagi yang berpendapat, sungguh mustahil untuk mengekor ke Arab Saudi, sebab (dinegaranya) Matahari masih terlihat. Oleh karena itu, Hari Raya Idul Adha haruslah jatuh pada keesokan harinya, yakni tanggal 17 Maret 2000.”

“Jadi, mereka hanya sekedar mengikuti aturan main yang normal belaka. Jemaat Ahmadiyah pun demikian, kita setuju (kepada pendapat yang mengatakan) bahwa Arab Saudi tidak berhak untuk menentukan jatuhnya suatu Hari Raya Id. Mereka menentukannya begitu saja (artificially). Mereka pikir, dikarenakan mereka adalah negara Islam, negara-negara lainnya harus ikut.”

“Itulah sebabnya mengapa kita (Jemaat Ahmadiyah) tidak mengekor kepada Arab Saudi, melainkan mengikuti hasil penelitian di berbagai observarium, yakni berdasarkan kepada apa-apa yang nyata terjadi.”

“Tambahan lagi, sungguh mustahil bahwa semua manusia (diberbagai belahan bumi) melihat sesuatu yang sama. Bumi ini bulat. Siang dan malam datang silih bergantian. Sehingga, satu waktu tertentu di Arab Saudi tentu sangat berlainan dengan keadaan waktu siang dan malam di beberapa bagian Amerika atau Australia, ataupun Jepang misalnya.”

Tanda-tanda Akhir zaman

Disusun : Dian Khoeruddin

Pengertian zaman

Zaman menurut Kitab Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur adalah Al Zaman artinya waktu yang sedikit dan Al Zamaan artinya waktu yang banyak karena lafazh tersebut menunjukkan jamak.

Adapun waktu menurut Alquran kita dapati dalam surah Al ‘Ashr, Allah berfirman:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم 

بسم الله الرحمان الرحيم (۱)

وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿۲

اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿۳

اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ﴿۴

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk

Aku baca dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang

Demi Masa

Sesungguhnya manusia itu pasti dalam kerugian

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling memberi nasehat dalam kebenaran, dan saling menasehati mengenai kesabaran.

Menurut QS. Al ‘Ashr yang tersebut di atas, waktu menjadi simbol bagi keberuntungan dan kerugian atas setiap insan yang hidup di dunia ini. Ukuran untuk keberuntungan di sana dengan jelas disebutkan bahwa mereka yang beriman dan beramal saleh, dan ukuran kerugian adalah mereka yang menolak untuk beriman dan tidak beramal saleh. 

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih ke IV rh, bersabda : “segala sesuatu yang terus berubah, di dalamnya pasti terdapat unsur waktu. Dan definisi waktu adalah hari ini dia lain, besok dia akan lain lagi (berubah). Dari perubahan itulah justru waktu dapat dideteksi. Ia dapat diketahui dari kecepatan terjadinya perubahan tersebut. Sesuatu benda yang di dalamnya tidak ada perubahan. Dia tetap seperti sedia kala (statis). Jika ada benda seperti itu, berarti dia azali dan abadi. Dan padanya tidak ada unsur waktu. 

Pengertian Akhir zaman

Akhir Zaman dan Kiamat itu dapat difahami sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi terhadap beberapa nubuwatan Al-Qur’an dan hadis Rasulullah s.a.w., yang terjadi baik atas umat Islam maupun kaum lain pada zaman ini. Peristiwa Akhir Zaman itu terjadi sesuai dengan nubuwatan yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadis, yang terjadi pada suatu zaman tertentu yang berkaitan langsung dengan alam manusia, baik itu yang berhubungan langsung dengan kerajaan duniawi suatu kaum, maupun yang berkaitan dengan ajaran seorang nabi yang diutus kepada suatu kaum, yang di dalamnya telah terjadi dan terbentuk suatu peradaban dan kebudayaan.

Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin, Khalifatul Masih ke I ra, mengatakan bahwa; akhir dunia adalah kiamat, fana, dan sebagainya, di beberapa tempat digunakan untuk menyatakan sesuatu era tertentu dan kaum tertentu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda; itu betul. Dan Allah Ta’ala dari sejak awal sudah merupakan Khalik selamanya. 

Namun, ke-Esaan-Nya pun menuntut supaya Dia disuatu saat menghabiskan semuanya ini, “Kullu man ‘alaiha faanin (QS.55:27) - segala sesuatu yang ada di atasnya akan menjadi punah.” Kita tidak dapat mengatakan kapan waktu itu akan tiba. Namun, waktu yang demikian pasti akan terjadi. Jika Dia menghendaki, Dia dapat melakukan penciptaan yang baru lagi. 

Falsafah Akhir Zaman

Pada Akhir Zaman ini Tuhan memiliki kehendak yang sangat agung, Dia menghendaki revolusi kerohanian di dalam setiap jiwa kaum Muslimin.  Meskipun kaum Muslimin tidak memahami akan makna–makna di balik peristiwa akhir zaman, namun, Allah s.w.t. dengan sifat–Nya Yang Maha Rahman-Rahim akan menerangkan semua makna itu melalui seseorang utusan-Nya.

Untuk mengimbangi degradasi moral umat Islam, maka Dia membangkitkan kembali seorang Rasul-Nya guna menciptakan revolusi kerohanian. Dan itu merupakan sunnatullah yang tidak akan pernah berubah. Kedatangan seorang Rasul merupakan suatu hikmah yang paling besar bagi penyampaian suatu pesan baru pada zaman tertentu (Akhir Zaman).

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a., beliau bersabda:

Bila suatu revolusi terjadi dalam lingkungan agama, dalam istilah Islam ia disebut kiamat. Suatu ungkapan lain yang digunakan untuk itu adalah khalqus samaawaati wal ardhi merupakan penciptaan suatu bumi baru dan langit baru. satu nama lain lagi untuk itu dalam bahasa al-Qur’an suci adalah as-sa’ah.

Semua perubahan yang terjadi di dunia, semua gerakan yang berhasil telah mengikuti garis ini; bagaimana mungkin ada suatu gerakan yang semesta atau abadi tanpa ada suatu pesan segar untuk umat manusia, serta di sana ada suatu panggilan untuk satu revolusi. 

Kiamat tidak diartikan sebagai kehancuran alam semesta, sebagaimana yang banyak difahami oleh umum. Akan tetapi, kiamat yang diterangkan di atas adalah kiamat yang bersifat kehancuran rohani dan kebangkitannya kembali. Untuk membangkitkan kembali kerohanian yang sudah mati yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh buruk adat dan kebudayaan  yang sudah bercampur baur dengan nilai-nilai agama. Maka untuk memurnikannya  kembali sangat dibutuhkan suatu revolusi(perubahan secara cepat dan menyeluruh).

Tanda-tanda Akhir Zaman

1. Sunan Ibnu Majah yang menerangkan salah satu tanda Akhir Zaman :  

سَيَكُوْنُ فِى اَخِرِ الّزَماَنِ خَسْفٌ وَقَدْفٌ وَمَسْخٌ قِيْلَ وَمَتَى ذَلِكَ يَارَسُوْل  اللهِ؟ قَالَ : اِذاَ ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْقَيْنَاتُ) .رواه ابن ماجه( 

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka.” Ada yang bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, kapankah hal itu terjadi?’ beliau menjawab, “apabila telah merajalelanya bunyi-bunyian(musik) dan penyanyi-penyanyi wanita.” (H.R. Ibnu Majah)

Ciri-ciri Akhir Zaman yang terdapat dalam hadis tersebut melukiskan fenomena alam dan fenomena kehidupan manusia secara umum. Dari hadis tersebut juga diketahui asal usul istilah Akhir Zaman. Di antara fenomena alam sebagai pertanda Akhir Zaman adalah; banyaknya gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, angin topan/puting beliung, badai tsunami, gerhana bulan/gerhana matahari pada satu bulan Ramadhan dan wabah pes yang mematikan, ini merupakan gejala alam yang memperingatkan manusia untuk kembali kepada jalan Allah, tentu saja dari sekian banyak bencana tersebut sudah banyak korban jiwa dan tidak terhitung lagi korban harta benda, agar manusia sadar bahwa Allah sebagai Yang Maha Berdaulat mampu mengirim apa saja kepada penghuni bumi ini.

2. Allah swt berfirman : 

وَاَخَرِيْنَ مِنْهُمْ لمَاَّ يَلْحَقُوْا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ     (الجمعة:۴ ) 

Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.(QS.62:4)

Dalam ayat tersebut terdapat khabar suka bagi umat Islam yang hidup pada Zaman Akhir. Di mana setelah Islam mencapai kemenangan demi kemanangan dalam masa kurun waktu tiga abad, kemudian akan ada masa kemunduran Islam selama seribu tahun. Sesudah itu akan ada era kebangkitan kembali Islam di bawah kepemimpinan seseorang yang kedatangannya sudah ditakdirkan. 

Sebagaimana ada tertera dalam shahih Bukhari. 

عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كُناَّ جُلُوْسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صلعم اُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُوْرَةُ الْجُمُعَةِ وَاَخَرِيْنَ مِنْهُمْ قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلَاثاَ وَفِيْنَا سَلْمَانُ الْفَارِسِى وَوَضَعَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم يَدَهُ عَلىَ سَلْمَانَ ثُمَّ قَالَ لَوْكَانَ الْلأِيْمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَا لنَاَ لَهُ رِجَالٌ اَوْ رَجُلٌ مِنْ هَؤُلاَءِ.   (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa, kami sedang duduk dekat Nabi s.aw. ketika surah Jumah turun kepada beliau s.a.w.. para sahabat bertanya, siapakah yang dimaksud dengan wa aakhariina minhum dalam ayat itu? Beliau tidak menjawab hingga para sahabat bertanya sampai tiga kali. Di antara kami terdapat seorang sahabat bernama Salman Al-Farisi (Iran-Persia). Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya di atas pundak Salman seraya bersabda,”Jika iman telah terbang ke bintang tsuraya, beberapa orang laki-laki atau seorang laki-laki dari antara orang-orang ini (asal Persia) akan mengambilnya kembali. (H.R.Al-Bukhari). 

Hadis ini mengkhabarkan suatu zaman yang menunjukkan bahwa buah iman tidak lagi dijumpai di kalangan kaum Muslimin, kemunduran Islam di segala bidang sudah terjadi pada zaman tersebut. Sehingga untuk mengembalikan semua nilai-nilai akidah, akhlak, peradaban dan kebudayaan Islam yang sudah menghilang peranannya di bumi, akan ditampil kembali pada Akhir Zaman, sesuai dengan janji Rasulullah s.a.w. bahwa seseorang dari keturunan sahabat Rasulullah s.a.w. bernama Salman Al-Parisi akan datang untuk menyempurnakan nubuwatan tersebut.

3. Dalam Riwayat Lain Rasulullah saw bersabda :

Akan datang masanya tatkala Islam hanya tinggal namanya saja, dan Al-Qur’an hanya tinggal tulisan saja(tanpa manusia mengerti dan mengamalkan akan isi). Mesjid-mesjid akan penuh dengan orang-orang tetapi kosong dari petunjuk. Ulama akan menjadi wujud yang paling buruk di bawah kolong langit ini; kekacauan akan mengalir dari mereka dan akhirnya akan kembali kepada mereka juga.(Baihaqi).  

Nubuwatan Rasulullah s.a.w. telah menjadi sempurna pada zaman ini, umat Islam hanya akan menyandang nama saja sebagai Muslim, akan tetapi, mereka tidak dapat menunjukkan esensi kemurnian dan hakikat Islam sejati. Kehidupan mereka dipenuhi dengan berbagai praktek-praktek manipulasi, korupsi dan kemunafikan. Menjalani kehidupan yang rendah dan kotor, diri mereka dikuasai oleh nafsu-nafsu amarah yang selalu menghendaki agar manusia berjalan pada jalan yang buruk dan tercela. Inilah suatu zaman yang sangat dicemaskan oleh para waliullah tempo dulu, lahirnya generasi-generasi lemah yang mengabaikan dan mengacuhkan Islam.

Begitu banyaknya jumlah orang Islam yang tidak mengenal dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Kehidupan mereka benar-benar sudah terpisah dengan bimbingan Kitab Suci. Karena gaya hidup mereka semakin hari semakin menjauhkan diri mereka dari perilaku yang bersih dan suci sehingga hal itu akan menjadi penghalang bagi mereka untuk dapat memahami Kitab Suci Al-qur’an. 



Suatu Kebahagiaan tercipta oleh diri sendiri

Allah swt berfirman :
 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْۚ  
Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. (Al Hujurat, 49:13)

Pada peristiwa Haji wada (Haji terakhir) di Mekkah, tidak lama sebelum Rasulullah saw. wafat, beliau berkhutbah di hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan “Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu itu Esa dan bapak-bapakmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dan manusia. Orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pandangan Tuhan ialah yang paling bertakwa di antaramu” (HR. Baihaqi).

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.
Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenat di Amerika, tidak akan meminum obat tidur hingga over dosis.
Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, Presiden Brazil tidak akan menembak jantungnya.
Jika kecantikkan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari Amerika, tidak akan meminum alcohol dan obat depresi hingga over dosis. Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Theirry Costa, dokter terkenal dari Prancis, tidak akan bunuh diri akibat sebuah acara di televise.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya. Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri. Mampukah ia mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.
Sebagaimana Allah swt berfirman:

 لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ 

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku (Allah) akan menambahkan lebih banyak padamu; dan jika kamu tidak mensyukuri, sesungguhnya azab-Ku amat keras.” (Ibrahim, 14:7)

Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu, sementara orang-orang miskin akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh orang-orang kaya. 

Kalau kebahagiaan itu ada disuatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul dimana kebahagiaan itu berada.

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu. Yang kita perlukan adalah hati yang bersih dan ikhlas serta pikiran yang jernih, maka kita bisa menciptakan rasa bahagia itu kapan pun, dimana pun dan dengan kondisi apapun. Kebahagiaan itu milik “orang-orang yang pandai bersyukur”. “jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini..” Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan (HR Ibnumajah No. 2132)

Kebahagiaan bisa diraih berkat takwa

Dalam Alquranul Karim terdapat kalimat Innallaha ma'alladzina taqau yakni sesungguhnya Allah Ta’ala bersama dengan orang-orang yang bertakwa. 
Hadhrat Imam Mahdi dan Al Masih Mau'ud as bersabda "Inilah orang-orang yang telah menyatu dengan Tuhan, orang yang mendapat pertolongan Tuhan, pertolongan Tuhan lah yang dapat dianggap sebagai muttaqi (orang yang bertakwa)."

Beliau bersabda "kebahagiaan hakiki adalah takdir orang muttaqi yang kepadanya Tuhan telah menjanjikan dua surga. Seorang muttaqi dapat memperoleh kebahagiaan dalam gubuk ilalang sementara orang duniawi tidak dapat memperolehnya dalam kastil yang besar dan megah sekalipun. Semakin banyak yang dia peroleh semakin besar persoalan yang dia hadapi. Kalian harus ingat bahwa kebahagiaan sejati bukanlah takdir orang duniawi. Janganlah beranggapan bahwa kekayaan yang melimpah ruah dan pakaian-pakaian yang indah adalah sumber kebahagiaan. Sama sekali tidak demikian. Sumber dari kebahagiaan sejati adalah takwa." (Malfuzat, Vol I, hal. 401-403)

Shalat adalah Makanan ruh

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ 

Orang-orang yang beriman kepada yang Ghaib dan mendirikan Shalat dan membelanjakan harta dari apa-apa yang telah kami rizeqikan kepada mereka. (QS. Al Baqarah, 2:3)

Rasulullah saw telah mendidik kaumnya bahwa shalat meraih kedudukan yang paling penting. Mau tak mau kita perhatikan Alquran Karim yang permulaannya dariاِيْمَانُ بِالْغَيْبِ  dan يُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ dan didalamnya beliau menetapkan bahwa shalat adalah Rizki rohani. رِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّ اَبْقَى ini adalah rizki Tuhan engkau yang sangat baik dan kekal untuk selamanya. Dan didalamnya menetapkan cara memohon pertolongan kepada Tuhan اِسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلوةِ mintalah pertolongan Tuhan dengan sarana sabar dan shalat. Didalamnya menetapkan bahwa shalat merupakan sarana untuk menekan hasrat-hasrat rendah dan hina.

Yang didalamnya memberitahukan bahwa اِنَّ الصَّلوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَ الْمُنْكَرِ  shalat adalah cara untuk meraih keberhasilan agamawi dan duniawi.

Meskipun kita memperhatikan قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ هُمْ فِىْ صَلوتِهِمْ خَاشِعُوْنَ  (Sungguh telah berhasil orang-orang mukmin, yakni mereka yang mengerjakan shalat dengan khusyu) tempat pendidikan rekan-rekan semua yang tiada lain adalah mesjid.

اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُہۡتَدِیۡنَ 

Yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah, Hari akhir, tetap menunaikan shalat, membayar zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah; maka dapat diharapkan  bahwa mereka itu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk (At-Taubah, 9:18)

اَلْمَسَاجِدُ بُيُوتُ اللهِ وَالْمُؤْمِنُونَ زُوَّارُ اللهِ وَحَقٌّ عَلَى الْمَزُورِ أَنْ يُكْرِمَ زَائِرَهُ

Masjid-masjid itu adalah rumah-rumah Allah, sedangkan orang-orang mukmin adalah pengunjung Allah dan kewajiban bagi yang dikunjungi adalah memuliakan orang yang mengunjunginya (Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dalam Tarikhnya  dari Ibnu Abbas ra dan Kanzul-Ummal, Juz VII/ 20347)

مَنْ كَانَ  فِى الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فَهُوَ فِى الصَّلاَةِ مَالَمْ يُحَدِّثُ

Siapa saja berada dalam masjid menunggu shalat, maka dia itu termasuk dalam keadaan shalat selama dia tidak berbicara (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, An-Nasai, Ibnu Hibban dari Sahal bin Sa’ad ra  dan Kanzul-Ummal, Juz VII/ 20735)

Insan mencapai kedudukan keagungan dan ketinggian seperti apa dengan sarana shalat itu?

Allah Taala menyampaikan mereka pada kedudukan keagungan dan ketinggian sedemikian rupa hanya dengan perantaraan shalat saja. Dalam sejarah dunia belum sampailah diantara kaum lain pada kedududkan keagungan dan ketinggian hanya sekejap saja. Inilah perkara yang seluruh dunia telah akui, sehingga di satu pihak menggambarkan Nabi Tuhan sebagai sosok yang kotor. Di pihak lain pun mengakui hal ini bahwa keagamaan Hadhrat Muhammad Rasulullah saw yang merupakan kepribadian paling sukses di dunia dalam penyuluhan-penyuluhan. Dan beliau-lah yang telah melahirkan revolusi dan tidak seorang insan pun di dunia yang dapat melahirkan. Bukan kemenangan-kemenangan jasmani yang para sahabat beliau dapatkan. Sejarah dunia tidak dapat memaparkan suatu pandangan dan tidak mendapatkan kemenangan-kemenangan akhlaki.

Arab merupakan kaum yang paling ummi di dunia, paling hina dan paling rendah (tidak memiliki akhlak dan adab yang baik). Namun, dalam jangka waktu 30 tahun mereka mendapatkan kedudukan keagungan itu. Sehingga dalam jangka waktu 100 tahun, mereka meliputi seluruh dunia dan dalam corak agamawi dan akhlak serta menjadi kaum tertinggi dunia dan menjadi muallim (guru) dunia. Mereka mendapatkan kedudukan keagungan dan ketinggian ini hanya dengan shalat saja. Selain itu, tak ada pendidikan lain yang dimiliki oleh mereka. Mereka tidak dibuatkan universitas dan sekolah. Perdagangan-perdagangan dan pertanian-pertanian mereka tidak diberi...... mereka tidak diberitahukan cara-cara bertani yang benar. Pendidikan mereka ada hanya dengan سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمُ dan سُبْحَانَ رَبِّىَ الْاَعْلَى saja. Seorang demi seorang diantara mereka sampai pada kedudukan keagungan dan ketinggian yang tidak menaruh pandangannya pada yang lain.

Tujuan Mendirikan Shalat

Sebagaimana Huzur saw bersabda, “shalat adalah tiang agama. Orang yang mengerjakan shalat secara dawam berarti dia telah menegakkan agama dan orang yang meninggalkan shalat berarti dia telah menjatuhkan agama dan telah meruntuhkan bangunannya. Perbedaan Islam dan kafir terletak pada shalat.“  Suatu kali beliau saw bersabda,  “pada hari kiamat yang paling pertama dihisab adalah shalat.“ Di lain kesempatan beliau saw dalam menjelaskan keutamaan shalat di hadapan para sahabat ra bersabda, “orang yang di samping rumahnya terdapat sungai yang airnya bersih dan dia mandi di situ lima kali sehari, dengan begitu tidak akan ada kotoran tersisa di badannya. Begitu juga orang yang mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari  maka tidak akan tersisa ketidak bersihan di dalam batinnya  dan juga tidak akan tersisa kotoran kesalahan dan dosa di dalam batinnya (Bukhari).

Hazrat Umar ra sering bersabda bahwa “menurut saya kepuasan yang paling penting adalah shalat.” Orang yang menyia-nyiakannya berarti dia menyia-nyiakan segalanya. Yakni, dalam keadaan seperti ini amalan orang itu tidak pantas dipuji.

Sayyidina Hazrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda, “shalat adalah wajib bagi setiap muslim. Di dalam hadits syarif tertera, bahwa suatu kaum datang kepada Rasulullah saw lalu menerima Islam dan meminta bahwa, ya Rasulullah ! maafkanlah shalat bagi kami, karena kami orang-orang pebisnis/saudagar. Disebabkan binatang ternak dan sebab lainnya kami tidak yakin akan kebersihan pakaian kami dan tidak pula kami memiliki waktu luang. Maka Rasulullah saw bersabda: “lihatlah, apa jadinya ketika shalat tidak ada? Bukanlah agama yang di dalamnya tidak ada shalat. Apakah shalat itu? Shalat adalah (sarana) mengemukakan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita di hadapan Allah Ta’ala dan dengan begitu kita ingin kebutuhan kita dipenuhi. Terkadang melipat tangan untuk mengagungkan-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan terkadang sujud di hadapan-Nya dengan penuh hina dan merendahkan diri. Memohon kebutuhan-kebutuhan (untuk dipenuhi) oleh-Nya juga adalah  shalat. Terkadang layaknya seorang peminta-minta  yang memuji sang pemberi; engkau begini dan begitu. Melakukan gerakan-gerakan untuk menzahirkan keagungan dan kejalalan-Nya lalu dengan itu memohon rahmat-Nya. Jadi, agama yang gerakan-gerakan shalat ini tidak ada di dalamnnya, agama semacam apa itu? Manusia setiap saat membutuhkan dan terus memohon supaya berada di jalan kerido’an-Nya serta menginginkan karunian-Nya. Memautkan/melekatkan hati dalam kecintaan kepada-Nya, takut kepada-Nya dan mengingat-Nya, itulah yang dinamakan shalat dan inilah agama (Malfuzhat jilid 5 Hl 253-254).“

khilafat dan Seruan Doa

Allah Ta’ala menarik perhatian kita untuk berdoa dan beribadah kepada-Nya supaya tetap berhubungan dengan Khilafat. Untuk meraih berkat Ilahi, untuk menyingkirkan segala kesulitan kita dan memiliki kedamaian batin, dan doa serta ibadah memang senjata kita yang sebenarnya yang bisa kita andalkan terus-menerus. Cara dan sarana sementara tidak membawa keberhasilan. Kita melihat bahwa dalam catatan sejarah Nabi Allah, kesuksesan hanya datang melalui doa, khususnya dalam sejarah Islam dan khususnya lagi pada zaman Hadhrat Rasulullah saw dan para Khulafatur Rasyiddin, kemenangan datang melalui doa dan tidak melalui kekuatan duniawi. Perlu diingat bagaimana pun, bahwa meskipun adanya semua janji Ilahi tetapi pengorbanan jiwa tetap diberikan dan standar ibadah harus selalu ditingkatkan.

Di dalam ayat Istikhlaf (QS. An Nuur, 56) menjanjikan bahwa khilafat kepada orang mukmin sejati dan memberikan kabar suka mengubah ketakutan mereka menjadi keamanan, dan berjanji untuk mengubah mereka. Hal ini tentu di janjikan pula kepada mereka yang senantiasa mengutamakan doa, ibadah kepada Allah Ta’ala dan berkorban untuk menegakkan Keesaan Tuhan. 

Kita harus ingat bahwa semua berkat ada dalam doa, karena Allah menyatakan :  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ "maka shalat lah kepada Tuhan engkau, dan berikan pengorbanan." (QS. 108:3)

Jadi, ibadah kepada Allah dan pengorbanan yang menjadikan kita penerima karunia Allah. Tidak ada keraguan bahwa adalah sifat manusia menjadi gelisah ketika cobaan dan kesengsaraan berlangsung lama. Mukmin sejati dalam kondisi cemas mengucapkan suara  مَتَي نَصْرُاللّٰهِ. "Kapan datang pertolongan Allah?" (QS. 2:215). Mereka mengatakan demikian karena putus asa, melainkan untuk menarik belas kasih Allah Ta’ala. Mereka melakukannya dengan benar-benar menyerahkan diri kepada Allah, memanjatkan doa-doa mereka ke titik tertinggi serta mematuhi standar tinggi pengorbanan dan kemudian, sebagai jawabannya datanglah suara اَلَا اِنَّ نَصَرُ اللّٰهِ قَرِيْبُ.  "Sungguh, pertolongan Allah sudah dekat." (QS. 2:215)

Perlu untuk dipahami bahwa kita menyampaikan doa-doa ke titik tertinggi, kita harus memiliki pemahaman yang sangat baik tentang ruh pengorbanan, tetapi kita perlu memahami hakikat doa. Untuk menikmati buah dari pengorbanan kita, kita seyogianya untuk meningkatkan standar doa-doa kita. Alhasil untuk menimbulkan kondisi itu dalam diri kita harus memahami apa yang Tuhan inginkan. Allah Ta’ala menyatakan :

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ 

"Atau, siapa yang menjawab orang tertekan ketika ia menyeru kepada-Nya dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Apakah ada Tuhan selain Allah? Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." (An Naml, 27:63).


Apa ‎itu ‎Jimat?

Di Indonesia ada di sebagian daerah yang masih kental dan percaya dengan penggunaan jimat. Ada yang dijadikan sebagai suatu adat, ada juga yang dipergunakan untuk melindungi dari berbagai gangguan, seperti gangguan sihir, gangguan kesehatan, gangguan setan dan sebagainya.

Adapun menurut kamus besar Bahasa Indonesia dan dilansir oleh Wikipedia, Jimat, Azimat atau Tamimah adalah sejenis barang atau tulisan yang digantungkan pada tubuh, kendaraan, atau bangunan dan dianggap memiliki kesaktian untuk dapat melindungi pemiliknya, menangkal penyakit dan tolak bala.

Pada tanggal 4 juli 1903 ada seseorang yang bertanya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, "Mengingat jimat di lengan dan sebagainya serta memberi jampi-jampian, apakah menurut syariat Islam dibenarkan atau tidak?" Menanggapi hal itu Hadhrat Masih Mauud as mengarahkan kepada Maulana Hakim Nuruddin dan bersabda, "Apakah ada bukti-buktinya dari Hadis-hadis?"

Maulana Hakim Nuruddin r.a. menjelaskan: “Ada tertulis bahwa apabila Khalid bin Walid pergi dalam pertempuran, maka rambut Rasulullah saw. yang  diikatkan pada sorban beliau itu, beliau letakkan menggantung ke arah depan. Kemudian suatu kali Rasulullah saw. mencukur seluruh rambut kepala beliau pada waktu pagi, lalu separuh rambut itu beliau berikan kepada seorang sahabat tertentu, sedangkan separuh lagi beliau bagikan kepada para sahabah lainnya. Rasulullah s.a.w. juga memberi minum orang-orang sakit dengan air bekas cucian jubah beliau, dan orang-orang sakit itu menjadi sembuh. Seorang perempuan suatu kali juga telah mengumpulkan keringat beliau.” 

Mendengar seluruh uraian ini Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda:
"Kalau begitu dari situ disimpulkan bahwa pasti ada hal-hal tertentu di dalamnya, yang tidak tampa dari manfaat. Dan dari situ juga timbul asal-muasal jimat dan sebagainya. [Namun] apalah artinya menggantungkan rambut, dan apa pula artinya memakai jimat. Saya juga memperoleh ilham: "Badsyah tere kaprung me se barkat dhundhengge -- raja-raja akan mencari berkat dari pakaian-pakaian engkau." Tentu ada sesuatu di situ sehingga mereka akan mencari berkat darinya. Namun  di dalam semua ini  juga terdapat peran dorongan-dorongan kecintaan.
Kemudian berlangsung perbincangan mengenai kelemahan (dosa-dosa) kecil yang timbul dari tokoh-tokoh besar. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda:
“Manusia-manusia yang merupa-kan tokoh besar dalam hal kejujuran dan kesetiaan, apabila diperbincangkan mengenai dosa-dosa (kelemahan) kecil mereka  maka iman menjadi rusak. Allah justru memaafkan dosa-dosa (kelemahan) kecil itu, dan keagungan pekerjaan-pekerjaan mereka itu sedemikian rupa,  sehingga terasa malu untuk membincangkan dosa-dosa (kelemahan) kecil yang mereka lakukan. Oleh karena itu perlahan-lahan hal itu akan hilang sehingga tidak ada lagi bekasnya sedikit pun.”

(Malfuzat, jld. VI, hlm. 36-38).

Dampak dan Pengaruh Jimat

Terkait dampak dan Pengaruh yang ditimbulkan dari menggunakan jimat, Hadhrat Masih Mauud as menjelaskan :

Keberadaan dampaknya merupakan suatu penda'waan tanpa dalil. Pengobatan  semacam ini termasuk dalam daya pengaruh sugesti pemikiran, sebab  anggapan pemikiran menimbulkan dampak yang besar pada manusia. Hal itu bisa membuat seseorang menjadi tertawa, dan bisa membuat seseorang menangis. Dan banyak hal yang pada hakikatnya tidak ada dapat diperlihatkan oleh daya ini. Dan ia menjadi pengobatan untuk beberapa penyakit

Sering juga jimat-jimat itu tidak menimbulkan faedah, sehingga akhirnya terpaksa dikatakan kepada orang yang memberi jimat itu bahwa jimat tersebut sudah tidak berguna lagi.” (Malfuzat, jld. VI, hlm. 107-108).

Kesimpulan nya adalah janganlah kita mengutamakan jimat dibandingkan dengan doa-doa yang penuh hikmah, yang dihaturkan ke Hadirat Allah Ta’ala. Maka dari itu senantiasalah untuk berpegang teguh kepada Allah Ta’ala. Mintalah petunjuk dan pertolongan-Nya, sehingga akan terhindar dari perbuatan yang sia-sia. 

Apakah Akan Ada Nabi Lagi Setelah Rasulullah saw?

Terdapat suatu penggalan Hadits Nabi Muhammad saw yang sering diikut sertakan dengan bacaan kalimat syahadat. Yakni kalimat Laa Nabiyya Ba'da artinya tidak ada lagi Nabi setelah ku.

Kalau ditinjau dari berbagai pendapat para ulama terdahulu, mereka sama sekali tidak pernah menggabungkan antara kalimah syahadat dengan kalimat Laa Nabiyya Ba'da sebab itu suatu hal yang berbeda dan dari 2 Hadits yang berbeda pula. Yang Mulia Nabi Muhammad saw hanya mengajarkan kepada kita dua macam syahadat, yakni syahadat Tauhid dan syahadat Rasul.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Hal yang sama terkait dengan kedudukan beliau sebagai khataman Nabiyyin. Hadhrat Sayyid Abdul Karim Jaelani ra bersabda bahwa "perintah kenabian yang membawa syariat telah habis setelah Hadhrat Rasulullah saw, maka karena itulah Hadhrat Rasulullah saw menjadi khatamman Nabiyyin." (Al insaanul kaamil hal. 115)

Bahkan Hadhrat Imam Muchidyn Ibnu 'Arobi bersabda "Kenabian yang terputus setelah kedatangan Rasulullah saw hanyalah kenabian yang membawa syariat, bukanlah maqom kenabian, jadi sekarang tidak akan ada lagi syariat lagi, yang akan memasukhkan syariat beliau saw dan tidak akan ada lagi syariat yang akan menambah hukum baru dalam syariat beliau saw, inilah maksudnya perkataan Rasulullah saw bahwa Nubuwah dan Risalat sudah terputus, jadi setelahku tidak akan ada lagi Rasul atau juga Nabi. Maksudnya dari perkataan tadi adalah bahwa sekarang tidak akan ada lagi Nabi yang bertentangan dengan syariatku tapi Kalau pun ada nabi, maka dia akan berada dibawah hukum syariatku. (Alfutuuhatul Makiyyah, hal 208)

Dengan jelas Hadhrat Imam Muchidyn Ibnu 'Arabi membuka suatu pandangan yang seakan-akan terpatri ketika memahami Ayat khatamman nabiyyin yang menggambarkan kedudukan Rasulullah saw sebagai penutup para Nabi. Namun Imam Muchidyn Ibnu Arabi membuka keterangan bahwa jikalau akan ada Nabi Lagi Setelah Rasulullah saw maka ia akan berkedudukan sebagai penerus dan pendukung syariat Rasulullah saw dan kedudukan nya tidak akan melebihi Rasulullah saw. 

Senada dengan Imam Muchidyn Ibnu Arabi ra, Hadhrat Imam Abdul Wahab Sya'rani Alaihi Rohmah : "ketahuilah bahwa kenabian mutlaq belum tertutup, hanya kenabian Tasyri'i (yang membawa syariat) yang tertutup. Kemudian menulis bahwa perkataan Rasulullah saw Laa Nabiyya Ba'da dan Laa Rasuula Ba'diy maksudnya adalah setelah beliau saw tidak akan ada nabi pembawa syariat bersama dengan syariatnya yang khusus." (Al Yawaqit wal jawahir Vol 2, hal. 39)

Jadi, pintu kenabian yang tidak membawa syariat baru, tidak berdiri sendiri itu kemungkinan akan ada di akhir jaman ini, dengan syarat berada di bawah Rasulullah saw. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

ٱللَّهُ يَصْطَفِى مِنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ

Allah akan memilih utusan-utusan-Nya dari antara malaikat dan dari antara manusia (Al Hajj, 76)

Perkataan yasthofi dalam ayat ini artinya memilih. Menurut ketentuan bahasa Arab, yasthofi itu dalam fi'il mudhori yang menunjukkan pekerjaan yang sedang dan akan dilakukan.

Jadi, jelasnya Allah Ta’ala sedang atau akan memilih/mengutus rasul-rasul-Nya sesuai keadaan jaman atau menurut keperluannya.

Senada pula dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran ayat 180 :

مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلْخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى ٱلْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَجْتَبِى مِن رُّسُلِهِۦ مَن يَشَآءُۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ 

Allah tidak akan membiarkan orang-orang Mukmin di dalam keadaan yang kamu ada padanya sebelum Dia pisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak akan memberitahukan yang ghaib kepadamu. Akan tetapi Allah memilih diantara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.

Kata-kata yadzara, yamiza, yutli'a dan yajtabi dalam bentuk fi'il mudhori yang menggambarkan penggunaan masa sekarang dan masa yang akan datang. Maksudnya dari ayat ini ialah, Allah Ta’ala senantiasa akan mengirimkan utusan-utusann-Nya untuk memisahkan perkara-perkara yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang khabar-khabar ghaib.

Selama masih ada kehidupan, selama masih ada peradaban manusia di dunia ini, maka kemungkinan besar Nabi itu akan terus diutus oleh Allah Ta’ala. 

Doa Akhlak Baik

Menghadirkan akhlak fadhilah didalam diri tidak hanya sekedar mengikuti dan mencontoh orang-orang yang baik saja. Tidak cukup hanya belajar dari sekitar atau lingkungan. Terkadang berakhlak baik pun harus senantiasa disertakan dalam setiap doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala.

Pada makalah kali ini, ada beberapa contoh suritauladan Yang Mulia Rasulullah saw dalam memohon kepada Allah Ta’ala supaya memiliki perangai akhlak yang baik. Diantaranya adalah.

Terdapat sebuah Hadits dalam Musnad Ahmad yang diriwayatkan oleh Hadhrat Aisyah ra beliau menerangkan bahwa, Rasulullah saw selalu berdoa “Wahai Allah, sebagaimana engkau telah menjadikan bentuk dan wajah saya bagus (indah) maka seperti itu pulalah hendaknya akhlak saya dijadikan baik.”

Akhlak dan Ilmu 
Dalam riwayat Hadhrat Zaid bin Arqam ra, menerangkan bahwa Rasulullah saw selalu membaca doa berikut ini “Hai Tuhan-ku, aku berlindung kepada engkau dari ilmu yang tidak berfaedah dan dari hati yang tidak khusyu kepada engkau dan dari jiwa yang tidak bisa kenyang (puas) dan dari doa yang tidak bisa terkabul.”

Kebaikan dan Kesuksesan
Ada satu doa yang lengkap, yang diambil dari buku Riyadush shalihin, kitabud da’wat, yaitu Ibnu Mas’ud ra menerangkan bahwa Rasulullah saw berdoa Allahumma inni as-aluka mujiba birahmatika wa ‘aza-ima maghfiratika was-salaamata min kulli itsmin wal-ghanimata min birrin wal-fauz bil jannati wan-najaata minan-naari

Artinya : “Wahai Allah, aku memohon mujibat (penyebab) rahmat Engkau dan tekad (keinginan akan) ampunan Engkau dan selamat dari setiap dosa dan banyak dari setiap bagian kebaikan dan kesuksesan memperoleh surga dan selamat dari neraka.”

Berlindung dari Keburukan
Kemudian, dalam Muslim, Kitabudz-Dzikir diriwayatkan oleh Farwah bin Naufal Al Asyha’i bahwa beliau bertanya kepada Hadhrat Aisyah ra “Doa apa yang Rasulullah saw panjatkan kepada Allah. Maka Hadhrat Aisyah ra menjawab “Rasulullah saw selalu berdoa, “Wahai Allah, saya berlindung kepada Engkau dari keburukan amal yang telah saya lakukan dan dari keburukan amal yang tidak saya lakukan.”

Sebagai manusia tentu di dalam amal Rasulullah saw tidak ada kekurangan dan di masa yang akan datang pun tidak ada. Oleh karena itu, hal tersebut merupakan sebuah nasihat yang baik bahwa orang yang melakukan amal yang buruk maka hendaknya meminta perlindungan kepada Allah mengenai hasil amal buruk tersebut dan demikian pula terhadap amal-amal yang belum dilakukan pun hendaknya memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari keburukan-keburukannya.

Dari Abdullah ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw selalu berdoa, “Hai Allah, kami memohon petunjuk Engkau, takwa, kesucian dan Istighfar.” (HR Muslim Kitabudz Dzikir)

Diriwayatkan dari Ibu Abbas ra bahwa Rasulullah saw selalu berdoa; “Hai Allah, saya taat kepada Engkau dan beriman kepada Engkau dan saya bertawakkal kepada Engkau dan tunduk kepada Engkau dan saya melawan musuh dengan pertolongan Engkau. Hai Tuhan ku, saya berlindung kepada kemuliaan Engkau, tidak ada sembahan selain Engkau, selamatkanlah saya dari kesesatan, Engkau hidup dan tidak pernah mati, sedangkan manusia dan jin untuk semuanya fana (tidak kekal) telah ditetapkam. (HR Muslim, Kitabudz Dzikir)

Dari Ibnu Abbas ra beliau menerangkan bahwa Rasulullah saw selalu berdoa, “Hai Allah, saya telah menyerahkan diri saya kepada Engkau dan saya beriman kepada Engkau dan saya hanya percaya (beriman) kepada Engkau dan saya condong (Tunduk) kepada Engkau dan saya berbahas semata-mata demi Engkau, yakni bukan untuk peribadi saya sendiri melainkan untuk Engkau dan demi untuk keputusan saya datang kepada Engkau, maka maafkanlah saya. Kesalahan-kesalahan yang saya lakukan yang ada kemungkinan untuk saya lakukan dan kesalahan-kesalahan yang saya sembunyikan atau yang saya zahirkan. Engkaulah yang awwal dan yang akhir, kecuali Engkau tidak ada yang patut disembah.” (Riyadush Shalihin, bab Kitabud da’wat)

Inilah beberapa doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dalam kehidupan sehari, terutama dalam meningkatkan kwalitas akhlak Fadhillah. Semoga para pembaca budiman dapat mengamalkan doa-doa yang telah diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah saw.

Nuur Rasulullah saw

Insan Kamil (manusia sempurna) yang bernama Muhammad Musthafa saw, terkait dengan beliau saw Allah Ta’ala berfirman :

لَوْلَاكَ لَمَاخَلَقْتُ الْاَفْلَاكَ
"Wahai Muhammad! Aku telah menciptakan langit dan bumi karena engkau."
Terkait dengan Nuur Muhammad sendiri dalam Kitab Mirqatul Mafatih penjelasan Syarah Misykat dalam Kitabul-Iman bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Dari semua benda yang pertama Allah Ta’ala ciptakan adalah nuur-Ku." 

Artinya, dari sejak permulaan, Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa nur (cahaya) yang diberikan kepada Insan Kamil itu adalah nur yang tidak pernah diberikan kepada siapapun dari orang-orang terdahulu dan tidak pernah pula diberikan kepada orang-orang yang akan datang sesudahnya. Dan nur itu hanya semata-mata akan didapatkan di dalam diri Insan Kamil (Hadhrat Muhammad Musthafa saw). 

Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau'ud as menjelaskan kedudukan dan kesempurnaan nur beberkat Rasulullah saw dalam Buku Barahin Ahmadiyah :
"Kebijakan dan segenap akhlak mulia terdapat pada diri Nabi Suci, Hadhrat Muhammad Musthafa saw ini, sedemikian rupa sempurna keserasiannya, kelembutannya dan dilimpahi Nuur sehingga turunnya Ilham, dengan sendirinya siap untuk bercahaya."

Hal ini, dari sisi akal sehat dan juga dari segi akhlak lainnya, beliau saw berada pada kedudukan mulia, spesial serta memiliki kedudukan yang tanpa batas. Segala sesuatunya, setiap akhlaknya, setiap amalnya senantiasa dipenuhi dengan nur dan sinarnya tampak dengan sendirinya. 

Berkaitan pula dengan firman Alquran yakni نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ cahaya di atas cahaya (Surah An Nuur : 36), Hadhrat Imam Mahdi dan Al Masih Mau'ud as bersabda : "hal itu memiliki arti, tatkala di dalam wujud suci Khatamul anbiya banyak nur terkumpul, maka di atas nur-nur itu masuk lagi satu nur samawi lainnya yang merupakan wahyu Ilahi dan dengan masuknya nur itu, wujud Khatamul anbiya dengan sendirinya menjadi tempat berkumpulnya cahaya-cahaya, (menjadi kumpulan nur-nur), Rasulullah di dalam Alquran dinamakan nur dan lampu penyerang." (Barahin Ahmadiyah, jld 3)

Di satu tempat sambil menjelaskan terkait dengan nur dan lampu penyerang, Hadhrat Imam Mahdi dan Al Masih Mau'ud as bersabda :"Dengan menamakan beliau saw sebagai siraj munir (lampu penerang) terdapat lagi satu hikmah lain yang sangat halus bahwa dari satu lampu, ratusan ribu lampu dapat bersinar sedangkan di dalam lampu itu juga tidak ada kekurangan. Perkara ini tidak terdapat dalam bulan dan matahari. Maksudnya adalah dengan mengikuti dan taat kepada Rasulullah saw, ratusan ribu manusia akan sampai pada martabat itu dan keberkatan beliau saw tidak bersifat khusus bahkan bersifat umum serta akan mengalir terus.

Ringkasnya, ini merupakan sunnah Allah bahwa saat kegelapan sampai pada puncaknya, dikarenakan sebagian sifat-sifat-Nya, Allah Ta’ala mengutus seorang manusia dari pada-Nya setelah memberikan nur dan makrifat. Dan meletakkan pengaruh di dalam kalamnya serta daya tarik di dalam perhatiannya dan doa-doanya terdapat kemakbulan. Namun Dia menarik mereka dan memberikan pengaruh-pengaruhnya terhadap mereka yang layak untuk pilihan itu. Lihatlah nama Rasulullah saw adalah sirajam muniran (lampu penerang). Tetapi, tentang Abu Jahal, apa yang ia peroleh? (Malfuzat, jld 5, hal 665)



Istighfar Solusi Mengatasi Kesulitan

Diantara amalan yang banyak dilakukan oleh Rasulullah saw yaitu beristighfar memohon ampun kepada Allah swt, terkadang dalam suatu majelis beliau beristighfar sampai 70 kali, dalam riwayat yang lain disebutkan sampai 100 kali, padahal Rasulullah saw adalah seorang Nabi yang ma’sum, yang telah dijaga oleh Allah dan telah mendapatkan jaminan ampunan dari Allah, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat dan kepada para ummatnya untuk banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah swt.

Allah memerintahkan beliau saw untuk beristighfar dan memohonkan ampun untuk ummat beliau, baik mukmin laki–laki maupun mukmin perempuan dan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw adalah merupakan contoh bagi kita, kalau saja Rasulullah ma’sum dan banyak mengucapkan istighfar apa lagi kita yang belum ada jaminan ampunan dari Allah Swt.

Selain Rasulullah saw yang diperintahkan untuk beristighfar, Nabi Adam as pun melakukan amalan istighfar ini, sebagaimana Allah swt berfirman:
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Araf :23)

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ 

Nabi Nuh as juga mengucapkan doa memohon pengampunan kepada Allah swt
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (QS. Nuh :28)

رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا 

Imam al-Qurthubi Rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata:“Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:”Istighfarlah engkau kepada Allah.’ Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab: ”Mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata:”Doakanlah saya agar dikaruniai anak”.

Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab:”Mintalah ampunan kepada Allah.’ Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering. Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab: ”Mohonlah ampun kepada Allah.’

Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya: "Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?”, Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab:”Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya)”.

“Maka, Aku katakan kepada mereka: ”Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh: 10-12).

Istighfar adalah merupakan alamat bagi orang – orang yang senantiasa kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala yang mengisi malam – malamnya dengan banyak memohon ampun. Allah Subhanahu wata’alaberfirman:

ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ 

“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur“. (QS. Ali Imran : 17).

Mari perbanyak istighfar pada setiap kondisi dan keadaan, baik pada saat kita berada dimanapun hendaknya lisan kita senantiasa basah dengan banyak berdzikir dan beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena dengan  banyak beristighfar Allah mengampuni dosa dan memudahkan segala urusan kita.

Pengkhidmatan adalah ciri dari Islam


Kisah Pengorbanan Hadhrat Usman ra

Teringat kisah yang dicontohkan oleh Hadhrat Khalifah Usman bin Affan ra, tatkala itu sedang terjadi kekeringan yang panjang sehingga mengakibatkan banyaknya kaum muslim kekurangan bahan-bahan makanan. Banyak kaum muslimin mengadu kepada Hadhrat Abu Bakar as Siddiq yang kala itu menjabat sebagai khalifah. Kemudian beliau membeli sumur dari orang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin. Namun masih juga banyak yang kekurangan. 

Pada saat itu Hadhrat Usman beserta kafilah dagangnya baru pulang melakukan perdagangan dari Siria dengan membawa berbagai bahan makanan yang terdiri dari biji-bijian dan gandum. Akhirnya beberapa kaum muslimin datang ke rumah Hadhrat Usman untuk membeli gandum dan biji-bijian dengan memberi keuntungan 2 dirham. Hadhrat Usman mengumumkan bahwa ada lagi yang bisa menawar lebih tinggi dari keuntungan 2 dirham?.

Para Sahabat tidak ada yang berani menawar lebih tinggi dari itu. Kemudian Hadhrat Usman menyampaikan bahwa ada yang akan membeli gandum dan biji-bijian ini dengan harga berlipat ganda, siapakah? Dia adalah Allah Ta’ala, sebagaimana janjinya di dalam Alquran :

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَۚ  

Sesungguhnya, Allah swt. telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa mereka dan harta mereka bahwa bagi mereka tersedia surga. (At Taubah, 111)

Dan akhirnya Hadhrat Usman membagikan semua gandum dan biji-bijian untuk membantu kaum muslimin yang sedang mengalami situasi sulit.

Kebaikan adalah Sedekah

Nabi Muhammad saw bersabda bahwa “Semua bentuk kebaikan itu adalah sedekah”. Mengacu kepada hadits tadi Jemaat Muslim Ahmadiyah juga memiliki suatu prohram pengkhidmatan yang terarah dan berkelanjutan, untuk mengkhidmati manusia di manapun berada. Salah satu program yang tengah dilakukan adalah membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok dunia, terutama negara-negara miskin salah satunya di negara Afrika. 

Disana telah dibangun berbagai sarana umum seperti sekolah-sekolah, Rumah sakit, Lumbung Makanan, perbaikan dan pembaharuan pompa air umum, pembangunan rumah layak huni, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menolong dan mengkhidmati manusia, serta memperbaiki kehidupan mereka.

Hadhrat Khalifah, Mirza Masroor Ahmad atba, menyampaikan bahwa “Pengkhidmatan kepada umat manusia merupakan bagian terpenting dari ajaran Islam. Mereka yang bekhidmat adalah termasuk orang-orang yang sangat beruntung karena pengabdian mereka menarik balasan dari Allah Ta’ala.

Lebih lanjut, Hadhrat Khalifah, bersabda “Pekerjaan kemanusiaan yang dilakukan oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah ditujukan sepenuhnya bukan untuk kepentingan sendiri dan tanpa menginginkan balasan dunia apapun. Apa yang dikerjakan tidak hanya sebagai kewajiban moral mendasar dalam membantu sesama, namun juga dikarenakan kenyataan bahwa mengkhidmati umat manusia adalah bagian penting ajaran Islam.”

Hak Manusia menolong sesama Manusia

Hadhrat Khalifah bersabda: “Di Dalam Alquran Karim, Allah Ta’ala berulang kali memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memenuhi hak-hak umat manusia dan untuk menolong mereka yang membutuhkan atau mereka yang ditimpa kesulitan apapun. Alquran secara khusus menekannkan pentingnya membantu anggota masyarakat yang paling lemah atau mereka yang terpuruk dalam kemiskinan atau yang yatim piatu.”

Sebagaimana contoh yang tiada bandingannya yang telah diperlihatkan oleh Yang Mulia Rasulullah saw, Hadhrat Khalifah bersabda “Yang Mulia Rasulullah saw berulang kali bersabda akan keutamaan memenuhi hak-hak manusia. Dan bila kita mengetahui contoh beberkat beliau saw, kita akan melihat bahwa sebisa mungkin dengan setiap cara, beliau mengkhidmati manusia dan selamanya mengorbankan kesenangan beliau demi memenuhi kenyamanan dan kemudahan bagi orang lainnya. Sungguh! Hingga pada suatu peristiwa, Rasulullah saw bersabda bahwa yang paling utama dalam keimanan adalah menginginkan kebaikan dan melakukan hal yang tulus demi sesama serta memenuhi hak-hak mereka.”

Inilah contoh nyata, atas intruksi dan bimbingan dari Hadhrat Khalifah, maka semua Jamaah Muslim Ahmadiyah bahu membahu menyingsingkan lengan tangan dan siap sedia untuk mengkhidmati manusia tanpa membeda-bedakan. Dan hal yang sudah rutin dilakukan adalah ribuan warga Ahmadi terlibat dalam kegiatan donor darah. Demi untuk kemanusiaan.

Istighfar : Kunci Menutupi Kelemahan

Terkadang manusia tidak menyadari akan perbuatan-peruatan yang telah dilakukan, apalagi perbuatan buruk atau dosa, seakan-akan manusia pada ...