Tampilkan postingan dengan label Mirza Masroor Ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mirza Masroor Ahmad. Tampilkan semua postingan

khilafat dan Seruan Doa

Allah Ta’ala menarik perhatian kita untuk berdoa dan beribadah kepada-Nya supaya tetap berhubungan dengan Khilafat. Untuk meraih berkat Ilahi, untuk menyingkirkan segala kesulitan kita dan memiliki kedamaian batin, dan doa serta ibadah memang senjata kita yang sebenarnya yang bisa kita andalkan terus-menerus. Cara dan sarana sementara tidak membawa keberhasilan. Kita melihat bahwa dalam catatan sejarah Nabi Allah, kesuksesan hanya datang melalui doa, khususnya dalam sejarah Islam dan khususnya lagi pada zaman Hadhrat Rasulullah saw dan para Khulafatur Rasyiddin, kemenangan datang melalui doa dan tidak melalui kekuatan duniawi. Perlu diingat bagaimana pun, bahwa meskipun adanya semua janji Ilahi tetapi pengorbanan jiwa tetap diberikan dan standar ibadah harus selalu ditingkatkan.

Di dalam ayat Istikhlaf (QS. An Nuur, 56) menjanjikan bahwa khilafat kepada orang mukmin sejati dan memberikan kabar suka mengubah ketakutan mereka menjadi keamanan, dan berjanji untuk mengubah mereka. Hal ini tentu di janjikan pula kepada mereka yang senantiasa mengutamakan doa, ibadah kepada Allah Ta’ala dan berkorban untuk menegakkan Keesaan Tuhan. 

Kita harus ingat bahwa semua berkat ada dalam doa, karena Allah menyatakan :  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ "maka shalat lah kepada Tuhan engkau, dan berikan pengorbanan." (QS. 108:3)

Jadi, ibadah kepada Allah dan pengorbanan yang menjadikan kita penerima karunia Allah. Tidak ada keraguan bahwa adalah sifat manusia menjadi gelisah ketika cobaan dan kesengsaraan berlangsung lama. Mukmin sejati dalam kondisi cemas mengucapkan suara  مَتَي نَصْرُاللّٰهِ. "Kapan datang pertolongan Allah?" (QS. 2:215). Mereka mengatakan demikian karena putus asa, melainkan untuk menarik belas kasih Allah Ta’ala. Mereka melakukannya dengan benar-benar menyerahkan diri kepada Allah, memanjatkan doa-doa mereka ke titik tertinggi serta mematuhi standar tinggi pengorbanan dan kemudian, sebagai jawabannya datanglah suara اَلَا اِنَّ نَصَرُ اللّٰهِ قَرِيْبُ.  "Sungguh, pertolongan Allah sudah dekat." (QS. 2:215)

Perlu untuk dipahami bahwa kita menyampaikan doa-doa ke titik tertinggi, kita harus memiliki pemahaman yang sangat baik tentang ruh pengorbanan, tetapi kita perlu memahami hakikat doa. Untuk menikmati buah dari pengorbanan kita, kita seyogianya untuk meningkatkan standar doa-doa kita. Alhasil untuk menimbulkan kondisi itu dalam diri kita harus memahami apa yang Tuhan inginkan. Allah Ta’ala menyatakan :

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ 

"Atau, siapa yang menjawab orang tertekan ketika ia menyeru kepada-Nya dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Apakah ada Tuhan selain Allah? Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." (An Naml, 27:63).


Esensi Khilafat

Hadhrat Khalifatul Masih ke V, Mirza Masroor Ahmad atba. 

Sesuai dengan syariat Islam, sangat penting dan harus ada khalifah di dalam Islam. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda ;
وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَََّةً
Seseorang yang mati dan tidak Bai'at kita pada seorang Imam (yakni khalifah), maka matinya adalah mati jahiliyah, (Muslim & Misykat hal. 320)

Hadits ini telah disepakati oleh para sahabat dan terbukti bahwa sesudah Rasulullah saw, Khalifah Abu Bakar ra, Khalifah Umar ra, Khalifah Utsman ra, dan Khalifah Ali ra semuanya berturut-turut diangkat sebagai Khalifah. Yang kemudian dikenal dengan sebutan khalifatur Rasyiddin (yakni ke khalifah-an setelah kewafatan Yang Mulia Rasulullah saw.)
Hadits ini juga menggambarkan bahwa khalifah dalam Islam adalah suatu keutamaan, seorang Imam atau pemimpin yang dapat diayomi dan ditiru tutur kata serta perbuatannya, Khalifah menjadi rool model dalam menata hati dan mengelola kehidupan.

Esensinya bahwa khalifah akan terus dibutuhkan oleh kaum Muslim guna sebagai pemimpin dan pengendali baik kaitannya imanan maupun perkembangan Islam. Hakikatnya Islam tampa pemimpin bagaikan mobil tanpa supir. Sesempurnya kendaraan, sebagusnya kendaraan, bahkan semahalnya kendaraan tetap tanpa dikendalikan oleh seorang supir tak akan berguna. Begitu juga Islam. Islam sebagai agama yang sempurna tentu tidak bisa berjalan dengan sendirinya tanpa ada yang memimpin dan mengarahkan. Tentu khalifah sangat dibutuhkan.

Dalam sebuah seminar di Jakarta pada tahun 1924 yang diinisiasi oleh Yayasan Risalah Jakarta yang bertemakan Khilafah is the Answer dikutip oleh Tuan H. M. Ahmad Cheema HA, Sy mengutip bahwa "Sekarang orang-orang Muslim tidak memiliki ruh Islam, yang ada dan tampak hanyalah pengaruh budaya Barat. Dahulu pernah ada sebuah khilafat di Turki, tetapi kemudian pada tahun 1924 sistem khilafat itu tidak ada lagi, tertelan oleh dominasi sistem pemerintahan sekuler Turki."

Keberadaan seorang Khalifah atau imam dalam Islam telah tertulis pula di dalam Alquran Surat An Nuur ayat 56. Dan seluruh Umat islam harus taat kepadanya, siapa yang ingkar sesudahnya maka mereka itulah orang-orang yang fasik (durhaka).

Khalifah adalah manusia yang dipilih dan diangkat oleh Allah Ta’ala untuk menjadi Imam Zaman atau disebut Imamul muslimin di zaman ini. Dia adalah orang yang paling bertakwa yang menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa. Yang mengajak manusia kembali kepada Tauhid Ilahi (ke Imanan dan Ke-Esa-an Allah) yang dibawa oleh Hadhrat Khatamun Anbiya Muhammad saw.

Khalifah atau Imam adalah seorang yang bisa mempersatukan umat Islam di seluruh dunia yang kini terpecah belah akibat perselisihan. Sebagaimana diingatkan dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 105-106 :
"Dan berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah, janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan-mu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya ke-padamu supaya kamu mendapat petunjuk.(Ali 'Imran:104) Dan hendaklah ada se-golongan di antara kamu yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan, menyuruh berbuat baik, melarang berbuat buruk, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. (Ali 'Imran:105)"
Jadi melalui Khalifah lah bendera Islam dapat disatukan, sehingga seluruh umat dapat berkumpul dan bernaung dibawah ya.

Khalifah adalah sosok yang tidak hanya menunjukkan jalan untuk keselamatan tetapi juga menyinari jalan itu. Dan tidak hanya dapat memberikan ketentraman kepada mereka yang sakit atau sekarat, tetapi juga Insya Allah dapat menyembuhkan mereka yang sakit dan sekarat.

Doa-doanya selalu didengar Allah Ta’ala secara khusus dengan penuh kasih sayang. Allah Ta’ala akan menuntun nya dalam setiap keputusan yang dibuat. Dan dia mungkin keliru dalam mengambil keputusan, tetapi Allah Ta’ala akan menjamin bahwa keputusan yang pada awalnya tampak salah, akhirnya akan menjadi keputusan yang benar. 

Khalifah atau Imam zaman mengajak manusia kepada kebajikan, kebaikan, dan menghilangkan kedurhakaan dengan menunjukkan cara hidup dan kehidupan beragama secara benar. Dia akan memberi petunjuk-petunjuknya kepada umatnya dan petunjuknya ditaati (An Nisa 60), dan perilakunya menjadi contoh serta suri tauladan umat manusia. 

#Ahmadiyah, #Khalifah Islam, #Mirza Masroor Ahmad, #Khalifah Ahmadiyah

Indeks pencarian :

Siapa yang memilih Khalifah?

Lembaga khilafat adalah lembaga yang menjadi penerus Rasulullah saw serta menjadi wakil bagi seluruh umat Islam. Lembaga ini akan menjadi satu-satunya jalan petunjuk umat manusia untuk selama-lamanya. Dan khilafat ini akan terwujud dalam salah satu bentuk di dunia sampai hari Kiamat. Oleh karena itu, Khalifah  bagi kaum muslimin menjadi sesuatu yang istimewa. Mengapa dikatakan istimewa?, sebab kedudukan dan terpilihnya khalifah hanyalah kekuasaan Allah Ta’ala semata. Hadhrat khalifah Al Masih ke II ra bersabda, “Ingatlah dengan baik bahwa Allah Ta’alalah yang menjadikan khalifah, dan dustalah orang yang mengatakan bahwa khalifah adalah orang yang ditetapkan oleh manusia. Sebenarnya dengan merenungkan Alquran dengan seksama bisa diketahui bahwa tidak ada satu tempat pun ketika berbicara tentang khilafat berasal dari manusia, bahkan sebaliknya berkenaan dengan setiap jenis khilafat Allah Ta’ala senantiasa berfirman bahwa kamilah yang menjadikannya sebagaimana berkenaan dengan para nabi dan mamur di dalam ayat Istikhlaf Allah Ta’ala berfirman:

“Allah Ta’ala berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian bahwa Dia akan menjadikan bagi mereka di muka bumi khalifah sebagaimana Dia dulu telah menjadikan khalifah bagi orang-orang sebelum mereka, dan Dia akan menguatkan agama mereka yang Dia sukai untuk mereka, dan Dia akan menggantikan ketakutan mereka dengan rasa aman, mereka akan menyembah Aku dan tidak akan menyekutukan-Ku dengan apa pun. Dan barang siapa yang ingkar setelah adanya perintah ini maka dia akan dijauhkan dari Allah Ta’ala.” (An Nuur : 56)

Sekarang dibawah ayat ini jenis khilafat yang berdiri setelah Nabi Muhammad saw itulah khilafat rasyidah dan khilafat jenis inilah yang harus ada setelah Hadhrat Masih Mauud as. sebagaimana Allah Ta’ala berfirman berkenaan dengan Hadhrat Masih Mauud as:
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ 
وَءَاخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا۟ بِهِمْۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ 

Allahlah yang telah mengutus seorang rasul dari antara kaum yang ummi di tengah-tengah mereka, yang membacakan firman Allah Ta’ala kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, padahal sebelumnya mereka berada dalam kegelapan yang nyata, dan rasul itu akan mengajar satu kaum lagi yang belum bertemu dengan mereka saat ini, Allah Ta’ala Maha Perkasa dan Maha Bijkasana. (Al Jum’ah, 3-4)

Di dalam ayat ini Allah Ta’ala telah menjadikan perumpamaan masa Hadhrat Masih Mauud as dengan masa RasuluLlah saw dan berfirman bahwa satu waktu Nabi saw memang telah memberikan tarbiyat kepada para sahabat, dan sekali lagi beliau saw akan memberikan tarbiyat kepada satu kaum lagi yang hingga saat itu belum lahir. Dan dengan menjadikan para sahabat Hadhrat Masih Mauud as sebagai perumpamaan para sahabat RadliyaLlahu-anhum, Dia memberitahukan bahwa diantara mereka berdua ada satu hukum Allah Ta’ala yang akan berlaku, yaitu sebagaimana setelah Nabi saw berdiri khilafat, maka penting setelah Hadhrat Masih Mauud as juga khilafat berdiri. (Anwarul ‘uluum Jilid 2 hal.11-12)

Seolah-olah yang dimaksud dengan khilafat ‘alaa minhajinnubuwwah adalah khilafat yang pondasinya adalah kenabian dan yang standar kebenarannya adalah disamakan dengan standar kebenaran kenabian dan yang dengan perantaraan kenabian akan menguasai hati setiap mukmin. Sebagaimana Hadhrat Masih Mauud as menjelaskan pentingnya khilafat bersabda:
“Khalifah itu disebut sebagai pengganti, dan pengganti seorang rasul dalam pengertian yang sebenarnya hanya dia yang bisa yaitu yang secara zilli (bayangan) memiliki berbagai macam kesempurnaan seorang rasul. Khalifah hakikatnya adalah bayangan dari seorang rasul dan dikarenakan tidak ada manusia yang abadi oleh karena itu Allah Ta’ala menginginkan agar wujud para rasul yang merupakan wujud termulia dan terbaik diantara segenap manusia secara zilli (bayangan) hingga hari kiamat tetap ada, dan untuk inilah Allah Ta’ala telah memilih khilafat sehingga dunia sekali-kali tidak akan luput dari keberkatan kerasulan.” (Shahadatul Quran, Ruhani khazain Jilid 6, hal.355-356)
Dan inilah khilafat yang telah dinubuatkan oleh junjunan kita Yang Mulia Nabi Muhammad saw yaitu pada akhir zaman salah satu putera rohaniku akan diutus yang melalui perantaraannya penyebaran Islam yang kedua akan terjadi. Lalu setelah kewafatannya akan berdiri khilafat ‘alaa minhajinnubuwwah yang akan berlangsung hingga hari kiamat.

#KhalifahIslam, #Ahmadiyah, #Khalifah, #MirzaMasroorAhmad 

Istighfar : Kunci Menutupi Kelemahan

Terkadang manusia tidak menyadari akan perbuatan-peruatan yang telah dilakukan, apalagi perbuatan buruk atau dosa, seakan-akan manusia pada ...