Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan

Shalat adalah Makanan ruh

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ 

Orang-orang yang beriman kepada yang Ghaib dan mendirikan Shalat dan membelanjakan harta dari apa-apa yang telah kami rizeqikan kepada mereka. (QS. Al Baqarah, 2:3)

Rasulullah saw telah mendidik kaumnya bahwa shalat meraih kedudukan yang paling penting. Mau tak mau kita perhatikan Alquran Karim yang permulaannya dariاِيْمَانُ بِالْغَيْبِ  dan يُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ dan didalamnya beliau menetapkan bahwa shalat adalah Rizki rohani. رِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّ اَبْقَى ini adalah rizki Tuhan engkau yang sangat baik dan kekal untuk selamanya. Dan didalamnya menetapkan cara memohon pertolongan kepada Tuhan اِسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلوةِ mintalah pertolongan Tuhan dengan sarana sabar dan shalat. Didalamnya menetapkan bahwa shalat merupakan sarana untuk menekan hasrat-hasrat rendah dan hina.

Yang didalamnya memberitahukan bahwa اِنَّ الصَّلوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَ الْمُنْكَرِ  shalat adalah cara untuk meraih keberhasilan agamawi dan duniawi.

Meskipun kita memperhatikan قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ هُمْ فِىْ صَلوتِهِمْ خَاشِعُوْنَ  (Sungguh telah berhasil orang-orang mukmin, yakni mereka yang mengerjakan shalat dengan khusyu) tempat pendidikan rekan-rekan semua yang tiada lain adalah mesjid.

اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُہۡتَدِیۡنَ 

Yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah, Hari akhir, tetap menunaikan shalat, membayar zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah; maka dapat diharapkan  bahwa mereka itu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk (At-Taubah, 9:18)

اَلْمَسَاجِدُ بُيُوتُ اللهِ وَالْمُؤْمِنُونَ زُوَّارُ اللهِ وَحَقٌّ عَلَى الْمَزُورِ أَنْ يُكْرِمَ زَائِرَهُ

Masjid-masjid itu adalah rumah-rumah Allah, sedangkan orang-orang mukmin adalah pengunjung Allah dan kewajiban bagi yang dikunjungi adalah memuliakan orang yang mengunjunginya (Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dalam Tarikhnya  dari Ibnu Abbas ra dan Kanzul-Ummal, Juz VII/ 20347)

مَنْ كَانَ  فِى الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فَهُوَ فِى الصَّلاَةِ مَالَمْ يُحَدِّثُ

Siapa saja berada dalam masjid menunggu shalat, maka dia itu termasuk dalam keadaan shalat selama dia tidak berbicara (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, An-Nasai, Ibnu Hibban dari Sahal bin Sa’ad ra  dan Kanzul-Ummal, Juz VII/ 20735)

Insan mencapai kedudukan keagungan dan ketinggian seperti apa dengan sarana shalat itu?

Allah Taala menyampaikan mereka pada kedudukan keagungan dan ketinggian sedemikian rupa hanya dengan perantaraan shalat saja. Dalam sejarah dunia belum sampailah diantara kaum lain pada kedududkan keagungan dan ketinggian hanya sekejap saja. Inilah perkara yang seluruh dunia telah akui, sehingga di satu pihak menggambarkan Nabi Tuhan sebagai sosok yang kotor. Di pihak lain pun mengakui hal ini bahwa keagamaan Hadhrat Muhammad Rasulullah saw yang merupakan kepribadian paling sukses di dunia dalam penyuluhan-penyuluhan. Dan beliau-lah yang telah melahirkan revolusi dan tidak seorang insan pun di dunia yang dapat melahirkan. Bukan kemenangan-kemenangan jasmani yang para sahabat beliau dapatkan. Sejarah dunia tidak dapat memaparkan suatu pandangan dan tidak mendapatkan kemenangan-kemenangan akhlaki.

Arab merupakan kaum yang paling ummi di dunia, paling hina dan paling rendah (tidak memiliki akhlak dan adab yang baik). Namun, dalam jangka waktu 30 tahun mereka mendapatkan kedudukan keagungan itu. Sehingga dalam jangka waktu 100 tahun, mereka meliputi seluruh dunia dan dalam corak agamawi dan akhlak serta menjadi kaum tertinggi dunia dan menjadi muallim (guru) dunia. Mereka mendapatkan kedudukan keagungan dan ketinggian ini hanya dengan shalat saja. Selain itu, tak ada pendidikan lain yang dimiliki oleh mereka. Mereka tidak dibuatkan universitas dan sekolah. Perdagangan-perdagangan dan pertanian-pertanian mereka tidak diberi...... mereka tidak diberitahukan cara-cara bertani yang benar. Pendidikan mereka ada hanya dengan سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمُ dan سُبْحَانَ رَبِّىَ الْاَعْلَى saja. Seorang demi seorang diantara mereka sampai pada kedudukan keagungan dan ketinggian yang tidak menaruh pandangannya pada yang lain.

Tujuan Mendirikan Shalat

Sebagaimana Huzur saw bersabda, “shalat adalah tiang agama. Orang yang mengerjakan shalat secara dawam berarti dia telah menegakkan agama dan orang yang meninggalkan shalat berarti dia telah menjatuhkan agama dan telah meruntuhkan bangunannya. Perbedaan Islam dan kafir terletak pada shalat.“  Suatu kali beliau saw bersabda,  “pada hari kiamat yang paling pertama dihisab adalah shalat.“ Di lain kesempatan beliau saw dalam menjelaskan keutamaan shalat di hadapan para sahabat ra bersabda, “orang yang di samping rumahnya terdapat sungai yang airnya bersih dan dia mandi di situ lima kali sehari, dengan begitu tidak akan ada kotoran tersisa di badannya. Begitu juga orang yang mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari  maka tidak akan tersisa ketidak bersihan di dalam batinnya  dan juga tidak akan tersisa kotoran kesalahan dan dosa di dalam batinnya (Bukhari).

Hazrat Umar ra sering bersabda bahwa “menurut saya kepuasan yang paling penting adalah shalat.” Orang yang menyia-nyiakannya berarti dia menyia-nyiakan segalanya. Yakni, dalam keadaan seperti ini amalan orang itu tidak pantas dipuji.

Sayyidina Hazrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda, “shalat adalah wajib bagi setiap muslim. Di dalam hadits syarif tertera, bahwa suatu kaum datang kepada Rasulullah saw lalu menerima Islam dan meminta bahwa, ya Rasulullah ! maafkanlah shalat bagi kami, karena kami orang-orang pebisnis/saudagar. Disebabkan binatang ternak dan sebab lainnya kami tidak yakin akan kebersihan pakaian kami dan tidak pula kami memiliki waktu luang. Maka Rasulullah saw bersabda: “lihatlah, apa jadinya ketika shalat tidak ada? Bukanlah agama yang di dalamnya tidak ada shalat. Apakah shalat itu? Shalat adalah (sarana) mengemukakan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita di hadapan Allah Ta’ala dan dengan begitu kita ingin kebutuhan kita dipenuhi. Terkadang melipat tangan untuk mengagungkan-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan terkadang sujud di hadapan-Nya dengan penuh hina dan merendahkan diri. Memohon kebutuhan-kebutuhan (untuk dipenuhi) oleh-Nya juga adalah  shalat. Terkadang layaknya seorang peminta-minta  yang memuji sang pemberi; engkau begini dan begitu. Melakukan gerakan-gerakan untuk menzahirkan keagungan dan kejalalan-Nya lalu dengan itu memohon rahmat-Nya. Jadi, agama yang gerakan-gerakan shalat ini tidak ada di dalamnnya, agama semacam apa itu? Manusia setiap saat membutuhkan dan terus memohon supaya berada di jalan kerido’an-Nya serta menginginkan karunian-Nya. Memautkan/melekatkan hati dalam kecintaan kepada-Nya, takut kepada-Nya dan mengingat-Nya, itulah yang dinamakan shalat dan inilah agama (Malfuzhat jilid 5 Hl 253-254).“

Keistimewaan Shalat Berjamaah

Siapa diantara kita yang tidak tahu bahwa mengerjakan shalat adalah kewajiban bagi umat Islam. Al-Qur'an telah menarik perhatian kita ke arah itu di berbagai tempat dengan menjelaskan pentingnya. Menurut Nabi Muhammad saw, shalat adalah inti ibadah (Sunan At Tarmidzi). Beliau saw bahkan mengatakan bahwa meninggalkan shalat membuat seseorang lebih dekat dengan kekafiran dan penyembahan berhala (Sahih Muslim). Kemudian, menjelaskan pentingnya Salat, Nabi saw bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ "Sesungguhnya amal perbuatan seorang hamba yang pertama kali akan dihisab (dimintai pertangungjawaban, penilaian) pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi…"

" Shalat adalah inti ibadah"
Seorang beriman sejati tidak hanya sekedar mengerjakan shalat saja, melainkan ia harus mengerjakan shalat untuk menghapus korosi spiritual (karat-karat rohaniah). Sebagaimana Nabi Muhammad saw menjelaskan dengan sebuah contoh, أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?” Para Sahabat beliau saw menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada jejak kotoran akan ditinggalkan!” Atas hal ini, Hadhrat Rasulullah bersabda, فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا “Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghilangkan dosa dan menghilangkan kelemahan,” (Sahih Muslim, Kitab Tentang Shalat No. 667). 

Dengan demikian, tidak tersisa sedikit pun karat rohaniah pada jiwa seorang yang shalat lima waktu. Nabi saw menjelaskan pentingnya shalat dengan perumpamaan yang demikian cemerlang. Tapi seperti yang saya sudah katakan, perintah bagi orang beriman sejati ini tidak hanya tentang menjalankan Salat saja melainkan Nabi Muhammad saw lebih lanjut menjelaskan tentang pembersihan ruh dari kekotoran, إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ “…bila seseorang yang melakukan wudhu di rumahnya dengan sempurna lalu keluar dari rumahnya menuju Masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjamaah, maka tidak ada satu langkah pun dari langkahnya kecuali akan meningkatkan statusnya (derajat rohaniahnya), dan akan menghapus salah satu dari dosa-dosanya …” (Shahih Al-Bukhari, Kitabush Shalat.) Ini berarti bahwa setiap langkah akan mendapatkan dia pahala.

"Shalat adalah cara untuk melepaskan dosa-dosa" 
Di kesempatan lain, Nabi saw bersabda menjelaskan pentingnya shalat berjamaah, أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ “Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat? Para sahabat yang selalu siap untuk menemukan cara-cara untuk mendapat ridha Allah, dan untuk mencapai kedekatan-Nya dan terlepas dari dosa-dosa mereka, memohon, بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ‘Tentu saja, mohon katakanlah, wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ‘Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai (sulit), memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat (yang berikutnya) setelah melakukan shalat, (Hal ini membuat orang terlepas dari dosa.) Tidak hanya itu, tapi ini adalah sejenis ribaath (menjaga perbatasan).” (Shahih Muslim Kitab tentang Kebersihan) 
"Shalat berjamaah berfungsi sebagai pagar batas, antara manusia dengan syaitan" 
Artinya, itu penjagaan perbatasan oleh para prajurit sebagaimana negara-negara membangun perbatasan di perbatasan dengan negara-negara lain dan menunjuk angkatan bersenjata untuk tugas penjagaan itu. Mengapa batas-batas perlu dijaga? Supaya negara dapat dilindungi dari serangan pihak lain dan pasukan negara itu sesaat dapat siap sedia bila diserang musuh. Ancaman bahaya terbesar yang mana keamanan dan pagar batas diperlukan bagi orang mukmin adalah dari Setan dan dari hasrat-hasrat duniawi yang ditanamkan Setan di dalam hati orang beriman. Setan menyerang melalui itu. Agar dapat terlindungi dari serangan-serangan tersebut, shalat berjamaah berfungsi sebagai sebuah pagar batas. Ini adalah batalion para penjaga yang akan melindungi orang beriman dari serangan-serangan tersebut. shalat berjamaah juga akan menyelamatkan orang-orang beriman dari dosa-dosa dan membuat mereka condong untuk melakukan perbuatan baik.

Demikian pula, sebuah hadis mengisahkan bahwa Nabi saw bersabda, صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً ‘shalaatul jamaa’ati tafdhulu shalaatal faddi bisab’i wa ‘isyriina darajah.’ - “Shalat dengan berjamaah lebih tinggi derajatnya 27 kali daripada shalat sendirian.” (Shahih Bukhari Kitab tentang Azan, No. 650)

"Shalat berjamaah membuat barisan persatuan yang kokoh" 
Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as bersabda menjelaskan pentingnya shalat berjamaah: “Maksud banyaknya pahala dalam shalat berjamaah ialah karena itu menciptakan persatuan. Fokus perhatian agar dapat merawat dan memelihara persatuan ini telah ada dalam corak perbuatan, yaitu para mushalli (yang shalat) diperintahkan supaya kaki-kaki mereka pun dalam satu barisan yang lurus sejajar selama shalat...” (hal itu sempurna bila meluruskan tumit-tumit, telapak kaki bagian belakang) dan Jemaah harus berdiri dengan saling merapatkan. Seolah-olah mereka itu satu wujud…” (supaya tercipta kekuatan) Hal itu supaya nur (cahaya) ruhani dari seseorang akan meresap atau mengalir kepada orang lain dan hilang diantara mereka corak-corak pengutamaan diri sendiri atas orang lain yang melahirkan keakuan, ‘ujb (kebanggaan) dan keserakahan. (Artinya, terlepas dari kaya atau miskin, semua orang akan berdiri dalam satu shaf. Sebab, beberapa orang memiliki kebanggaan dan keakuran dalam hati mereka, yang terkikis dengan shalat berjamaah.) (Lecture Ludhiana, Ruhani Khazain jilid 20, h. 281-282.) 

Shalat Dan Tahap Kemajuannya

 1. Tafsir Surah Al Kautsar

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَفَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ 

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ 

Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau kautsar; maka beribadahlah kepada Tuhan engkau dan berkorbanlah; sesungguhnya musuh engkau itu, dialah yang tidak akan berketurunan.

Nama Surah yang paling pendek adalah Al Kautsar. Yang berarti Khair Katsir, kebaikan yang sangat banyak atau melimpah. Di dalam Surah yang pendek ini dijelaskan bahwa dengan cara apa manusia dapat meraih kebaikan yang melimpah itu?

Menjelaskan kebaikan yang melimpah dan cara meraihkanya termasuk diantara kesempurnaan Al Quran. Surah ini hanya terdiri dari 3 ayat. Ayat yang pertama dan terakhir terdiri dari jumlah (Kalimat) yang singkat dan di tengah ayat Surah ini terdapat dua jumlah (Kalimat) yang singkat juga.

Di dalam ayat pertama disebutkan "Hai Nabi! Kami telah menganugerahkan kepada engkau kebaikan yang melimpah", dan di dalam ayat terakhir "Musuh engkau adalah dia yang ingin melenyapkan atau menghancurkan engkau. Dia sendiri akan lenyap atau hancur. Dia akan diasingkan atau diluputkan dari setiap kebaikan."

Sedangkan pada ayat kedua terdapat dua perintah dalam 2 kalimat yang singkat, yakni "Maka sembahyanglah (shalat lah) untuk Tuhan engkau dan berkorbanlah." hal ini seakan-akan memberitahukan dua cara untuk meraih kebaikan yang melimpah itu, Khair Katsir.

2. Tujuan Agama dan Cara Meraihnya

Tujuan agama yang sebenarnya ada 2 cara untuk meraih tujuan itu. Tujuan agama yang telah diberitahukan adalah Dia membawa kebaikan yang melimpah ke dunia. Ini hendaknya diperhatikan bahwa bukan saja ahli lughat saja, melainkan para mufassirin Alquran zaman dahulu pun mengartikan Kautsar itu dengan kebaikan yang melimpah.

Mengenai Kautsar dinyatakan kepada Said bin Jabir, maka beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada Rasulullah saw banyak dari setiap kebaikan. Seseorang berkata bahwa di surga ada sebuah sungai, maka beliau saw bersabda selain sungai ada juga yang lainnya. Pada hakikatnya di dalam kebaikan yang melimpah ini terkumpul 2 jenis kebaikan, kebaikan agamawi dan kebaikan duniawi.

Di dalam Lisanul Arab terdapat arti Kautsar bahwa dianugerahkan kepada beliau saw sedikit dari kebaikan yang tidak dapat dihitung. Terdapat juga suatu perkara bahwa kabar yang ada di dunia menyebar dengan perantaraan Rasullah saw bukan dengan perantaraan Nabi yang lain.

3. Setiap muslim dapat meraih kebaikan yang melimpah dengan shalat dan pengorbanan

Jelaslah bahwa ini merupakan pidato Rasulullah saw namun bukan hanya Rasulullah saw saja, melainkan para pengikut beliau saw juga. Dari sini pun jelas bahwa yang diperintahkan adalah shalat dan berkorban. 

Itu bukan perintah untuk Rasulullah saw saja, melainkan untuk setiap pengikut beliau. Seakan-akan arti kata-kata ini adalah :

"Hai manusia! Kami telah menganugerahkan kepada engkau kebaikan yang melimpah dengan perantaraan wahyu Kami dan 2 cara untuk meraihnya. Pertama adalah shalat dan yang ke dua adalah pengorbanan." 

Yakni, manusia dapat meraih kedudukan tinggi hanya dengan shalat dan pengorbanan saja, yang dengan perantaraan lain manusia tidak dapat meraihnya. Dua hal inilah yang membuka jalan setiap kemajuan untuk manusia. Allah Ta’ala telah membuka pintu-pintu Kautsar kepada orang-orang muslim. Di dalamnya terdapat 2 pintu untuk meraihnya, yakni shalat dan pengorbanan.

4. Bagaimana shalat menjadi sumber kemajuan-kemajuan manusia

Shalat itu membawa ke arah kebaikan yang melimpah atau kedudukan kemajuan yang tinggi, diawali dari kehidupan dunia ini. Pengorbanan merupakan suatu amal perbuatan dan dengan jelas meraih kebaikan atau kemajuan itu tergantung pada pekerjaan seseorang. Yakni dia mengerjakan sedikit, maka hasilnya ia mendapatkan sedikit pula. Atau sebaliknya ia kerjakan banyak maka hasilnya pun banyak. Dan inilah prinsip yang diajarkan Alquran:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ 

"Tidaklah bagi manusia itu kecuali apa yang ia usahakan." (QS. An Nazm: 53:39)

Sebenarnya, siapapun orang yang mengerjakan suatu pekerjaan, itu merupakan hasil dari keinginannya. Dalam pekerjaan-pekerjaannya itu ia menjadi budak keinginan-keinginannya dan berjalan di belakang keinginan-keinginan itu. Seseorang yang timbul dalam hatinya keinginan buruk dan hina, maka dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Seseorang yang timbul di dalam hatinya keinginan baik dan mulia, maka dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan baik itu. Walhasil, akar seluruh kemajuan manusia adalah tertimbunya keinginan-keinginan yang rendah dan hina itu serta di dalamnya timbul keinginan-keinginan baik dan mulia serta shalat lah yang menyediakan manusia untuk itu.

5. Shalat adalah sarana terbaik untuk menahan keinginan-keinginan rendah dan melahirkan keinginan-keinginan tinggi (mulia) 

Shalat adalah suatu sarana yang dapat diraih dalam kesempurnaannya. Oleh karena itu, di dalam Shalat lahir kesadaran akan wujud Tuhan pada qalbu manusia. Pada waktu itu manusia menganggap bahwa dia sedang berdiri di hadapan Tuhannya. Diantara dia dan Tuhannya tidak ada tabir penghalang. Terjadilah hubungan erat antara fitrat insani dan Khaliknya. Seperti Alquran jelaskan :

ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ 

Yakni, Allah Ta’ala telah membawa manusia kepada satu keadaan kesempurnaan dan meniupkan ruh kedalamnya. (QS. As Sajdah, 32:9)

Cahaya fitrat insani lahir dalam kesempurnaannya, ketika pada hatinya terdapat kesadaran akan wujud Allah Ta’ala. Tanpa fitrat kesadaran itu, maka tidak lahir sirna dalam nur (cahaya). Manusia bukan hanya memuji Allah Ta’ala dengan lidahnya dan menyanjung sebuah lagu kebesaran-Nya, melainkan seluruh bentuk jisim pun yang beragam menempuhnya sesuai dengan dzikir-dzikir itu. Dan setelah mendapatkan perbuatan dengan perkataan berkesesuain, maka lahirlah pengaruh khusus pada kalbu.

Penyusun : Dian Khoeruddin 

Bahan bacaan :

Malfuzhat, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Add publish London,

Riyadush Shalihin, Drs. Muslich Shabir MA, PT Karya Putra Semarang

Tafsir Alquran, Ghulam Farid, cet Wisma Damai, Bogor 

Istighfar : Kunci Menutupi Kelemahan

Terkadang manusia tidak menyadari akan perbuatan-peruatan yang telah dilakukan, apalagi perbuatan buruk atau dosa, seakan-akan manusia pada ...