Shalat adalah Makanan ruh

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ 

Orang-orang yang beriman kepada yang Ghaib dan mendirikan Shalat dan membelanjakan harta dari apa-apa yang telah kami rizeqikan kepada mereka. (QS. Al Baqarah, 2:3)

Rasulullah saw telah mendidik kaumnya bahwa shalat meraih kedudukan yang paling penting. Mau tak mau kita perhatikan Alquran Karim yang permulaannya dariاِيْمَانُ بِالْغَيْبِ  dan يُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ dan didalamnya beliau menetapkan bahwa shalat adalah Rizki rohani. رِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّ اَبْقَى ini adalah rizki Tuhan engkau yang sangat baik dan kekal untuk selamanya. Dan didalamnya menetapkan cara memohon pertolongan kepada Tuhan اِسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلوةِ mintalah pertolongan Tuhan dengan sarana sabar dan shalat. Didalamnya menetapkan bahwa shalat merupakan sarana untuk menekan hasrat-hasrat rendah dan hina.

Yang didalamnya memberitahukan bahwa اِنَّ الصَّلوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَ الْمُنْكَرِ  shalat adalah cara untuk meraih keberhasilan agamawi dan duniawi.

Meskipun kita memperhatikan قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ هُمْ فِىْ صَلوتِهِمْ خَاشِعُوْنَ  (Sungguh telah berhasil orang-orang mukmin, yakni mereka yang mengerjakan shalat dengan khusyu) tempat pendidikan rekan-rekan semua yang tiada lain adalah mesjid.

اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُہۡتَدِیۡنَ 

Yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah, Hari akhir, tetap menunaikan shalat, membayar zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah; maka dapat diharapkan  bahwa mereka itu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk (At-Taubah, 9:18)

اَلْمَسَاجِدُ بُيُوتُ اللهِ وَالْمُؤْمِنُونَ زُوَّارُ اللهِ وَحَقٌّ عَلَى الْمَزُورِ أَنْ يُكْرِمَ زَائِرَهُ

Masjid-masjid itu adalah rumah-rumah Allah, sedangkan orang-orang mukmin adalah pengunjung Allah dan kewajiban bagi yang dikunjungi adalah memuliakan orang yang mengunjunginya (Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dalam Tarikhnya  dari Ibnu Abbas ra dan Kanzul-Ummal, Juz VII/ 20347)

مَنْ كَانَ  فِى الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فَهُوَ فِى الصَّلاَةِ مَالَمْ يُحَدِّثُ

Siapa saja berada dalam masjid menunggu shalat, maka dia itu termasuk dalam keadaan shalat selama dia tidak berbicara (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, An-Nasai, Ibnu Hibban dari Sahal bin Sa’ad ra  dan Kanzul-Ummal, Juz VII/ 20735)

Insan mencapai kedudukan keagungan dan ketinggian seperti apa dengan sarana shalat itu?

Allah Taala menyampaikan mereka pada kedudukan keagungan dan ketinggian sedemikian rupa hanya dengan perantaraan shalat saja. Dalam sejarah dunia belum sampailah diantara kaum lain pada kedududkan keagungan dan ketinggian hanya sekejap saja. Inilah perkara yang seluruh dunia telah akui, sehingga di satu pihak menggambarkan Nabi Tuhan sebagai sosok yang kotor. Di pihak lain pun mengakui hal ini bahwa keagamaan Hadhrat Muhammad Rasulullah saw yang merupakan kepribadian paling sukses di dunia dalam penyuluhan-penyuluhan. Dan beliau-lah yang telah melahirkan revolusi dan tidak seorang insan pun di dunia yang dapat melahirkan. Bukan kemenangan-kemenangan jasmani yang para sahabat beliau dapatkan. Sejarah dunia tidak dapat memaparkan suatu pandangan dan tidak mendapatkan kemenangan-kemenangan akhlaki.

Arab merupakan kaum yang paling ummi di dunia, paling hina dan paling rendah (tidak memiliki akhlak dan adab yang baik). Namun, dalam jangka waktu 30 tahun mereka mendapatkan kedudukan keagungan itu. Sehingga dalam jangka waktu 100 tahun, mereka meliputi seluruh dunia dan dalam corak agamawi dan akhlak serta menjadi kaum tertinggi dunia dan menjadi muallim (guru) dunia. Mereka mendapatkan kedudukan keagungan dan ketinggian ini hanya dengan shalat saja. Selain itu, tak ada pendidikan lain yang dimiliki oleh mereka. Mereka tidak dibuatkan universitas dan sekolah. Perdagangan-perdagangan dan pertanian-pertanian mereka tidak diberi...... mereka tidak diberitahukan cara-cara bertani yang benar. Pendidikan mereka ada hanya dengan سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمُ dan سُبْحَانَ رَبِّىَ الْاَعْلَى saja. Seorang demi seorang diantara mereka sampai pada kedudukan keagungan dan ketinggian yang tidak menaruh pandangannya pada yang lain.

Tujuan Mendirikan Shalat

Sebagaimana Huzur saw bersabda, “shalat adalah tiang agama. Orang yang mengerjakan shalat secara dawam berarti dia telah menegakkan agama dan orang yang meninggalkan shalat berarti dia telah menjatuhkan agama dan telah meruntuhkan bangunannya. Perbedaan Islam dan kafir terletak pada shalat.“  Suatu kali beliau saw bersabda,  “pada hari kiamat yang paling pertama dihisab adalah shalat.“ Di lain kesempatan beliau saw dalam menjelaskan keutamaan shalat di hadapan para sahabat ra bersabda, “orang yang di samping rumahnya terdapat sungai yang airnya bersih dan dia mandi di situ lima kali sehari, dengan begitu tidak akan ada kotoran tersisa di badannya. Begitu juga orang yang mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari  maka tidak akan tersisa ketidak bersihan di dalam batinnya  dan juga tidak akan tersisa kotoran kesalahan dan dosa di dalam batinnya (Bukhari).

Hazrat Umar ra sering bersabda bahwa “menurut saya kepuasan yang paling penting adalah shalat.” Orang yang menyia-nyiakannya berarti dia menyia-nyiakan segalanya. Yakni, dalam keadaan seperti ini amalan orang itu tidak pantas dipuji.

Sayyidina Hazrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda, “shalat adalah wajib bagi setiap muslim. Di dalam hadits syarif tertera, bahwa suatu kaum datang kepada Rasulullah saw lalu menerima Islam dan meminta bahwa, ya Rasulullah ! maafkanlah shalat bagi kami, karena kami orang-orang pebisnis/saudagar. Disebabkan binatang ternak dan sebab lainnya kami tidak yakin akan kebersihan pakaian kami dan tidak pula kami memiliki waktu luang. Maka Rasulullah saw bersabda: “lihatlah, apa jadinya ketika shalat tidak ada? Bukanlah agama yang di dalamnya tidak ada shalat. Apakah shalat itu? Shalat adalah (sarana) mengemukakan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita di hadapan Allah Ta’ala dan dengan begitu kita ingin kebutuhan kita dipenuhi. Terkadang melipat tangan untuk mengagungkan-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan terkadang sujud di hadapan-Nya dengan penuh hina dan merendahkan diri. Memohon kebutuhan-kebutuhan (untuk dipenuhi) oleh-Nya juga adalah  shalat. Terkadang layaknya seorang peminta-minta  yang memuji sang pemberi; engkau begini dan begitu. Melakukan gerakan-gerakan untuk menzahirkan keagungan dan kejalalan-Nya lalu dengan itu memohon rahmat-Nya. Jadi, agama yang gerakan-gerakan shalat ini tidak ada di dalamnnya, agama semacam apa itu? Manusia setiap saat membutuhkan dan terus memohon supaya berada di jalan kerido’an-Nya serta menginginkan karunian-Nya. Memautkan/melekatkan hati dalam kecintaan kepada-Nya, takut kepada-Nya dan mengingat-Nya, itulah yang dinamakan shalat dan inilah agama (Malfuzhat jilid 5 Hl 253-254).“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Istighfar : Kunci Menutupi Kelemahan

Terkadang manusia tidak menyadari akan perbuatan-peruatan yang telah dilakukan, apalagi perbuatan buruk atau dosa, seakan-akan manusia pada ...