khilafat dan Seruan Doa

Allah Ta’ala menarik perhatian kita untuk berdoa dan beribadah kepada-Nya supaya tetap berhubungan dengan Khilafat. Untuk meraih berkat Ilahi, untuk menyingkirkan segala kesulitan kita dan memiliki kedamaian batin, dan doa serta ibadah memang senjata kita yang sebenarnya yang bisa kita andalkan terus-menerus. Cara dan sarana sementara tidak membawa keberhasilan. Kita melihat bahwa dalam catatan sejarah Nabi Allah, kesuksesan hanya datang melalui doa, khususnya dalam sejarah Islam dan khususnya lagi pada zaman Hadhrat Rasulullah saw dan para Khulafatur Rasyiddin, kemenangan datang melalui doa dan tidak melalui kekuatan duniawi. Perlu diingat bagaimana pun, bahwa meskipun adanya semua janji Ilahi tetapi pengorbanan jiwa tetap diberikan dan standar ibadah harus selalu ditingkatkan.

Di dalam ayat Istikhlaf (QS. An Nuur, 56) menjanjikan bahwa khilafat kepada orang mukmin sejati dan memberikan kabar suka mengubah ketakutan mereka menjadi keamanan, dan berjanji untuk mengubah mereka. Hal ini tentu di janjikan pula kepada mereka yang senantiasa mengutamakan doa, ibadah kepada Allah Ta’ala dan berkorban untuk menegakkan Keesaan Tuhan. 

Kita harus ingat bahwa semua berkat ada dalam doa, karena Allah menyatakan :  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ "maka shalat lah kepada Tuhan engkau, dan berikan pengorbanan." (QS. 108:3)

Jadi, ibadah kepada Allah dan pengorbanan yang menjadikan kita penerima karunia Allah. Tidak ada keraguan bahwa adalah sifat manusia menjadi gelisah ketika cobaan dan kesengsaraan berlangsung lama. Mukmin sejati dalam kondisi cemas mengucapkan suara  مَتَي نَصْرُاللّٰهِ. "Kapan datang pertolongan Allah?" (QS. 2:215). Mereka mengatakan demikian karena putus asa, melainkan untuk menarik belas kasih Allah Ta’ala. Mereka melakukannya dengan benar-benar menyerahkan diri kepada Allah, memanjatkan doa-doa mereka ke titik tertinggi serta mematuhi standar tinggi pengorbanan dan kemudian, sebagai jawabannya datanglah suara اَلَا اِنَّ نَصَرُ اللّٰهِ قَرِيْبُ.  "Sungguh, pertolongan Allah sudah dekat." (QS. 2:215)

Perlu untuk dipahami bahwa kita menyampaikan doa-doa ke titik tertinggi, kita harus memiliki pemahaman yang sangat baik tentang ruh pengorbanan, tetapi kita perlu memahami hakikat doa. Untuk menikmati buah dari pengorbanan kita, kita seyogianya untuk meningkatkan standar doa-doa kita. Alhasil untuk menimbulkan kondisi itu dalam diri kita harus memahami apa yang Tuhan inginkan. Allah Ta’ala menyatakan :

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ 

"Atau, siapa yang menjawab orang tertekan ketika ia menyeru kepada-Nya dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Apakah ada Tuhan selain Allah? Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." (An Naml, 27:63).


Apa ‎itu ‎Jimat?

Di Indonesia ada di sebagian daerah yang masih kental dan percaya dengan penggunaan jimat. Ada yang dijadikan sebagai suatu adat, ada juga yang dipergunakan untuk melindungi dari berbagai gangguan, seperti gangguan sihir, gangguan kesehatan, gangguan setan dan sebagainya.

Adapun menurut kamus besar Bahasa Indonesia dan dilansir oleh Wikipedia, Jimat, Azimat atau Tamimah adalah sejenis barang atau tulisan yang digantungkan pada tubuh, kendaraan, atau bangunan dan dianggap memiliki kesaktian untuk dapat melindungi pemiliknya, menangkal penyakit dan tolak bala.

Pada tanggal 4 juli 1903 ada seseorang yang bertanya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, "Mengingat jimat di lengan dan sebagainya serta memberi jampi-jampian, apakah menurut syariat Islam dibenarkan atau tidak?" Menanggapi hal itu Hadhrat Masih Mauud as mengarahkan kepada Maulana Hakim Nuruddin dan bersabda, "Apakah ada bukti-buktinya dari Hadis-hadis?"

Maulana Hakim Nuruddin r.a. menjelaskan: “Ada tertulis bahwa apabila Khalid bin Walid pergi dalam pertempuran, maka rambut Rasulullah saw. yang  diikatkan pada sorban beliau itu, beliau letakkan menggantung ke arah depan. Kemudian suatu kali Rasulullah saw. mencukur seluruh rambut kepala beliau pada waktu pagi, lalu separuh rambut itu beliau berikan kepada seorang sahabat tertentu, sedangkan separuh lagi beliau bagikan kepada para sahabah lainnya. Rasulullah s.a.w. juga memberi minum orang-orang sakit dengan air bekas cucian jubah beliau, dan orang-orang sakit itu menjadi sembuh. Seorang perempuan suatu kali juga telah mengumpulkan keringat beliau.” 

Mendengar seluruh uraian ini Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda:
"Kalau begitu dari situ disimpulkan bahwa pasti ada hal-hal tertentu di dalamnya, yang tidak tampa dari manfaat. Dan dari situ juga timbul asal-muasal jimat dan sebagainya. [Namun] apalah artinya menggantungkan rambut, dan apa pula artinya memakai jimat. Saya juga memperoleh ilham: "Badsyah tere kaprung me se barkat dhundhengge -- raja-raja akan mencari berkat dari pakaian-pakaian engkau." Tentu ada sesuatu di situ sehingga mereka akan mencari berkat darinya. Namun  di dalam semua ini  juga terdapat peran dorongan-dorongan kecintaan.
Kemudian berlangsung perbincangan mengenai kelemahan (dosa-dosa) kecil yang timbul dari tokoh-tokoh besar. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda:
“Manusia-manusia yang merupa-kan tokoh besar dalam hal kejujuran dan kesetiaan, apabila diperbincangkan mengenai dosa-dosa (kelemahan) kecil mereka  maka iman menjadi rusak. Allah justru memaafkan dosa-dosa (kelemahan) kecil itu, dan keagungan pekerjaan-pekerjaan mereka itu sedemikian rupa,  sehingga terasa malu untuk membincangkan dosa-dosa (kelemahan) kecil yang mereka lakukan. Oleh karena itu perlahan-lahan hal itu akan hilang sehingga tidak ada lagi bekasnya sedikit pun.”

(Malfuzat, jld. VI, hlm. 36-38).

Dampak dan Pengaruh Jimat

Terkait dampak dan Pengaruh yang ditimbulkan dari menggunakan jimat, Hadhrat Masih Mauud as menjelaskan :

Keberadaan dampaknya merupakan suatu penda'waan tanpa dalil. Pengobatan  semacam ini termasuk dalam daya pengaruh sugesti pemikiran, sebab  anggapan pemikiran menimbulkan dampak yang besar pada manusia. Hal itu bisa membuat seseorang menjadi tertawa, dan bisa membuat seseorang menangis. Dan banyak hal yang pada hakikatnya tidak ada dapat diperlihatkan oleh daya ini. Dan ia menjadi pengobatan untuk beberapa penyakit

Sering juga jimat-jimat itu tidak menimbulkan faedah, sehingga akhirnya terpaksa dikatakan kepada orang yang memberi jimat itu bahwa jimat tersebut sudah tidak berguna lagi.” (Malfuzat, jld. VI, hlm. 107-108).

Kesimpulan nya adalah janganlah kita mengutamakan jimat dibandingkan dengan doa-doa yang penuh hikmah, yang dihaturkan ke Hadirat Allah Ta’ala. Maka dari itu senantiasalah untuk berpegang teguh kepada Allah Ta’ala. Mintalah petunjuk dan pertolongan-Nya, sehingga akan terhindar dari perbuatan yang sia-sia. 

Apakah Akan Ada Nabi Lagi Setelah Rasulullah saw?

Terdapat suatu penggalan Hadits Nabi Muhammad saw yang sering diikut sertakan dengan bacaan kalimat syahadat. Yakni kalimat Laa Nabiyya Ba'da artinya tidak ada lagi Nabi setelah ku.

Kalau ditinjau dari berbagai pendapat para ulama terdahulu, mereka sama sekali tidak pernah menggabungkan antara kalimah syahadat dengan kalimat Laa Nabiyya Ba'da sebab itu suatu hal yang berbeda dan dari 2 Hadits yang berbeda pula. Yang Mulia Nabi Muhammad saw hanya mengajarkan kepada kita dua macam syahadat, yakni syahadat Tauhid dan syahadat Rasul.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Hal yang sama terkait dengan kedudukan beliau sebagai khataman Nabiyyin. Hadhrat Sayyid Abdul Karim Jaelani ra bersabda bahwa "perintah kenabian yang membawa syariat telah habis setelah Hadhrat Rasulullah saw, maka karena itulah Hadhrat Rasulullah saw menjadi khatamman Nabiyyin." (Al insaanul kaamil hal. 115)

Bahkan Hadhrat Imam Muchidyn Ibnu 'Arobi bersabda "Kenabian yang terputus setelah kedatangan Rasulullah saw hanyalah kenabian yang membawa syariat, bukanlah maqom kenabian, jadi sekarang tidak akan ada lagi syariat lagi, yang akan memasukhkan syariat beliau saw dan tidak akan ada lagi syariat yang akan menambah hukum baru dalam syariat beliau saw, inilah maksudnya perkataan Rasulullah saw bahwa Nubuwah dan Risalat sudah terputus, jadi setelahku tidak akan ada lagi Rasul atau juga Nabi. Maksudnya dari perkataan tadi adalah bahwa sekarang tidak akan ada lagi Nabi yang bertentangan dengan syariatku tapi Kalau pun ada nabi, maka dia akan berada dibawah hukum syariatku. (Alfutuuhatul Makiyyah, hal 208)

Dengan jelas Hadhrat Imam Muchidyn Ibnu 'Arabi membuka suatu pandangan yang seakan-akan terpatri ketika memahami Ayat khatamman nabiyyin yang menggambarkan kedudukan Rasulullah saw sebagai penutup para Nabi. Namun Imam Muchidyn Ibnu Arabi membuka keterangan bahwa jikalau akan ada Nabi Lagi Setelah Rasulullah saw maka ia akan berkedudukan sebagai penerus dan pendukung syariat Rasulullah saw dan kedudukan nya tidak akan melebihi Rasulullah saw. 

Senada dengan Imam Muchidyn Ibnu Arabi ra, Hadhrat Imam Abdul Wahab Sya'rani Alaihi Rohmah : "ketahuilah bahwa kenabian mutlaq belum tertutup, hanya kenabian Tasyri'i (yang membawa syariat) yang tertutup. Kemudian menulis bahwa perkataan Rasulullah saw Laa Nabiyya Ba'da dan Laa Rasuula Ba'diy maksudnya adalah setelah beliau saw tidak akan ada nabi pembawa syariat bersama dengan syariatnya yang khusus." (Al Yawaqit wal jawahir Vol 2, hal. 39)

Jadi, pintu kenabian yang tidak membawa syariat baru, tidak berdiri sendiri itu kemungkinan akan ada di akhir jaman ini, dengan syarat berada di bawah Rasulullah saw. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

ٱللَّهُ يَصْطَفِى مِنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ

Allah akan memilih utusan-utusan-Nya dari antara malaikat dan dari antara manusia (Al Hajj, 76)

Perkataan yasthofi dalam ayat ini artinya memilih. Menurut ketentuan bahasa Arab, yasthofi itu dalam fi'il mudhori yang menunjukkan pekerjaan yang sedang dan akan dilakukan.

Jadi, jelasnya Allah Ta’ala sedang atau akan memilih/mengutus rasul-rasul-Nya sesuai keadaan jaman atau menurut keperluannya.

Senada pula dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran ayat 180 :

مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلْخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى ٱلْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَجْتَبِى مِن رُّسُلِهِۦ مَن يَشَآءُۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ 

Allah tidak akan membiarkan orang-orang Mukmin di dalam keadaan yang kamu ada padanya sebelum Dia pisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak akan memberitahukan yang ghaib kepadamu. Akan tetapi Allah memilih diantara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.

Kata-kata yadzara, yamiza, yutli'a dan yajtabi dalam bentuk fi'il mudhori yang menggambarkan penggunaan masa sekarang dan masa yang akan datang. Maksudnya dari ayat ini ialah, Allah Ta’ala senantiasa akan mengirimkan utusan-utusann-Nya untuk memisahkan perkara-perkara yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang khabar-khabar ghaib.

Selama masih ada kehidupan, selama masih ada peradaban manusia di dunia ini, maka kemungkinan besar Nabi itu akan terus diutus oleh Allah Ta’ala. 

Doa Akhlak Baik

Menghadirkan akhlak fadhilah didalam diri tidak hanya sekedar mengikuti dan mencontoh orang-orang yang baik saja. Tidak cukup hanya belajar dari sekitar atau lingkungan. Terkadang berakhlak baik pun harus senantiasa disertakan dalam setiap doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala.

Pada makalah kali ini, ada beberapa contoh suritauladan Yang Mulia Rasulullah saw dalam memohon kepada Allah Ta’ala supaya memiliki perangai akhlak yang baik. Diantaranya adalah.

Terdapat sebuah Hadits dalam Musnad Ahmad yang diriwayatkan oleh Hadhrat Aisyah ra beliau menerangkan bahwa, Rasulullah saw selalu berdoa “Wahai Allah, sebagaimana engkau telah menjadikan bentuk dan wajah saya bagus (indah) maka seperti itu pulalah hendaknya akhlak saya dijadikan baik.”

Akhlak dan Ilmu 
Dalam riwayat Hadhrat Zaid bin Arqam ra, menerangkan bahwa Rasulullah saw selalu membaca doa berikut ini “Hai Tuhan-ku, aku berlindung kepada engkau dari ilmu yang tidak berfaedah dan dari hati yang tidak khusyu kepada engkau dan dari jiwa yang tidak bisa kenyang (puas) dan dari doa yang tidak bisa terkabul.”

Kebaikan dan Kesuksesan
Ada satu doa yang lengkap, yang diambil dari buku Riyadush shalihin, kitabud da’wat, yaitu Ibnu Mas’ud ra menerangkan bahwa Rasulullah saw berdoa Allahumma inni as-aluka mujiba birahmatika wa ‘aza-ima maghfiratika was-salaamata min kulli itsmin wal-ghanimata min birrin wal-fauz bil jannati wan-najaata minan-naari

Artinya : “Wahai Allah, aku memohon mujibat (penyebab) rahmat Engkau dan tekad (keinginan akan) ampunan Engkau dan selamat dari setiap dosa dan banyak dari setiap bagian kebaikan dan kesuksesan memperoleh surga dan selamat dari neraka.”

Berlindung dari Keburukan
Kemudian, dalam Muslim, Kitabudz-Dzikir diriwayatkan oleh Farwah bin Naufal Al Asyha’i bahwa beliau bertanya kepada Hadhrat Aisyah ra “Doa apa yang Rasulullah saw panjatkan kepada Allah. Maka Hadhrat Aisyah ra menjawab “Rasulullah saw selalu berdoa, “Wahai Allah, saya berlindung kepada Engkau dari keburukan amal yang telah saya lakukan dan dari keburukan amal yang tidak saya lakukan.”

Sebagai manusia tentu di dalam amal Rasulullah saw tidak ada kekurangan dan di masa yang akan datang pun tidak ada. Oleh karena itu, hal tersebut merupakan sebuah nasihat yang baik bahwa orang yang melakukan amal yang buruk maka hendaknya meminta perlindungan kepada Allah mengenai hasil amal buruk tersebut dan demikian pula terhadap amal-amal yang belum dilakukan pun hendaknya memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari keburukan-keburukannya.

Dari Abdullah ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw selalu berdoa, “Hai Allah, kami memohon petunjuk Engkau, takwa, kesucian dan Istighfar.” (HR Muslim Kitabudz Dzikir)

Diriwayatkan dari Ibu Abbas ra bahwa Rasulullah saw selalu berdoa; “Hai Allah, saya taat kepada Engkau dan beriman kepada Engkau dan saya bertawakkal kepada Engkau dan tunduk kepada Engkau dan saya melawan musuh dengan pertolongan Engkau. Hai Tuhan ku, saya berlindung kepada kemuliaan Engkau, tidak ada sembahan selain Engkau, selamatkanlah saya dari kesesatan, Engkau hidup dan tidak pernah mati, sedangkan manusia dan jin untuk semuanya fana (tidak kekal) telah ditetapkam. (HR Muslim, Kitabudz Dzikir)

Dari Ibnu Abbas ra beliau menerangkan bahwa Rasulullah saw selalu berdoa, “Hai Allah, saya telah menyerahkan diri saya kepada Engkau dan saya beriman kepada Engkau dan saya hanya percaya (beriman) kepada Engkau dan saya condong (Tunduk) kepada Engkau dan saya berbahas semata-mata demi Engkau, yakni bukan untuk peribadi saya sendiri melainkan untuk Engkau dan demi untuk keputusan saya datang kepada Engkau, maka maafkanlah saya. Kesalahan-kesalahan yang saya lakukan yang ada kemungkinan untuk saya lakukan dan kesalahan-kesalahan yang saya sembunyikan atau yang saya zahirkan. Engkaulah yang awwal dan yang akhir, kecuali Engkau tidak ada yang patut disembah.” (Riyadush Shalihin, bab Kitabud da’wat)

Inilah beberapa doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dalam kehidupan sehari, terutama dalam meningkatkan kwalitas akhlak Fadhillah. Semoga para pembaca budiman dapat mengamalkan doa-doa yang telah diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah saw.

Nuur Rasulullah saw

Insan Kamil (manusia sempurna) yang bernama Muhammad Musthafa saw, terkait dengan beliau saw Allah Ta’ala berfirman :

لَوْلَاكَ لَمَاخَلَقْتُ الْاَفْلَاكَ
"Wahai Muhammad! Aku telah menciptakan langit dan bumi karena engkau."
Terkait dengan Nuur Muhammad sendiri dalam Kitab Mirqatul Mafatih penjelasan Syarah Misykat dalam Kitabul-Iman bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Dari semua benda yang pertama Allah Ta’ala ciptakan adalah nuur-Ku." 

Artinya, dari sejak permulaan, Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa nur (cahaya) yang diberikan kepada Insan Kamil itu adalah nur yang tidak pernah diberikan kepada siapapun dari orang-orang terdahulu dan tidak pernah pula diberikan kepada orang-orang yang akan datang sesudahnya. Dan nur itu hanya semata-mata akan didapatkan di dalam diri Insan Kamil (Hadhrat Muhammad Musthafa saw). 

Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau'ud as menjelaskan kedudukan dan kesempurnaan nur beberkat Rasulullah saw dalam Buku Barahin Ahmadiyah :
"Kebijakan dan segenap akhlak mulia terdapat pada diri Nabi Suci, Hadhrat Muhammad Musthafa saw ini, sedemikian rupa sempurna keserasiannya, kelembutannya dan dilimpahi Nuur sehingga turunnya Ilham, dengan sendirinya siap untuk bercahaya."

Hal ini, dari sisi akal sehat dan juga dari segi akhlak lainnya, beliau saw berada pada kedudukan mulia, spesial serta memiliki kedudukan yang tanpa batas. Segala sesuatunya, setiap akhlaknya, setiap amalnya senantiasa dipenuhi dengan nur dan sinarnya tampak dengan sendirinya. 

Berkaitan pula dengan firman Alquran yakni نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ cahaya di atas cahaya (Surah An Nuur : 36), Hadhrat Imam Mahdi dan Al Masih Mau'ud as bersabda : "hal itu memiliki arti, tatkala di dalam wujud suci Khatamul anbiya banyak nur terkumpul, maka di atas nur-nur itu masuk lagi satu nur samawi lainnya yang merupakan wahyu Ilahi dan dengan masuknya nur itu, wujud Khatamul anbiya dengan sendirinya menjadi tempat berkumpulnya cahaya-cahaya, (menjadi kumpulan nur-nur), Rasulullah di dalam Alquran dinamakan nur dan lampu penyerang." (Barahin Ahmadiyah, jld 3)

Di satu tempat sambil menjelaskan terkait dengan nur dan lampu penyerang, Hadhrat Imam Mahdi dan Al Masih Mau'ud as bersabda :"Dengan menamakan beliau saw sebagai siraj munir (lampu penerang) terdapat lagi satu hikmah lain yang sangat halus bahwa dari satu lampu, ratusan ribu lampu dapat bersinar sedangkan di dalam lampu itu juga tidak ada kekurangan. Perkara ini tidak terdapat dalam bulan dan matahari. Maksudnya adalah dengan mengikuti dan taat kepada Rasulullah saw, ratusan ribu manusia akan sampai pada martabat itu dan keberkatan beliau saw tidak bersifat khusus bahkan bersifat umum serta akan mengalir terus.

Ringkasnya, ini merupakan sunnah Allah bahwa saat kegelapan sampai pada puncaknya, dikarenakan sebagian sifat-sifat-Nya, Allah Ta’ala mengutus seorang manusia dari pada-Nya setelah memberikan nur dan makrifat. Dan meletakkan pengaruh di dalam kalamnya serta daya tarik di dalam perhatiannya dan doa-doanya terdapat kemakbulan. Namun Dia menarik mereka dan memberikan pengaruh-pengaruhnya terhadap mereka yang layak untuk pilihan itu. Lihatlah nama Rasulullah saw adalah sirajam muniran (lampu penerang). Tetapi, tentang Abu Jahal, apa yang ia peroleh? (Malfuzat, jld 5, hal 665)



Istighfar Solusi Mengatasi Kesulitan

Diantara amalan yang banyak dilakukan oleh Rasulullah saw yaitu beristighfar memohon ampun kepada Allah swt, terkadang dalam suatu majelis beliau beristighfar sampai 70 kali, dalam riwayat yang lain disebutkan sampai 100 kali, padahal Rasulullah saw adalah seorang Nabi yang ma’sum, yang telah dijaga oleh Allah dan telah mendapatkan jaminan ampunan dari Allah, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat dan kepada para ummatnya untuk banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah swt.

Allah memerintahkan beliau saw untuk beristighfar dan memohonkan ampun untuk ummat beliau, baik mukmin laki–laki maupun mukmin perempuan dan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw adalah merupakan contoh bagi kita, kalau saja Rasulullah ma’sum dan banyak mengucapkan istighfar apa lagi kita yang belum ada jaminan ampunan dari Allah Swt.

Selain Rasulullah saw yang diperintahkan untuk beristighfar, Nabi Adam as pun melakukan amalan istighfar ini, sebagaimana Allah swt berfirman:
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Araf :23)

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ 

Nabi Nuh as juga mengucapkan doa memohon pengampunan kepada Allah swt
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (QS. Nuh :28)

رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا 

Imam al-Qurthubi Rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata:“Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:”Istighfarlah engkau kepada Allah.’ Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab: ”Mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata:”Doakanlah saya agar dikaruniai anak”.

Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab:”Mintalah ampunan kepada Allah.’ Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering. Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab: ”Mohonlah ampun kepada Allah.’

Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya: "Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?”, Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab:”Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya)”.

“Maka, Aku katakan kepada mereka: ”Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh: 10-12).

Istighfar adalah merupakan alamat bagi orang – orang yang senantiasa kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala yang mengisi malam – malamnya dengan banyak memohon ampun. Allah Subhanahu wata’alaberfirman:

ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ 

“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur“. (QS. Ali Imran : 17).

Mari perbanyak istighfar pada setiap kondisi dan keadaan, baik pada saat kita berada dimanapun hendaknya lisan kita senantiasa basah dengan banyak berdzikir dan beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena dengan  banyak beristighfar Allah mengampuni dosa dan memudahkan segala urusan kita.

Pengkhidmatan adalah ciri dari Islam


Kisah Pengorbanan Hadhrat Usman ra

Teringat kisah yang dicontohkan oleh Hadhrat Khalifah Usman bin Affan ra, tatkala itu sedang terjadi kekeringan yang panjang sehingga mengakibatkan banyaknya kaum muslim kekurangan bahan-bahan makanan. Banyak kaum muslimin mengadu kepada Hadhrat Abu Bakar as Siddiq yang kala itu menjabat sebagai khalifah. Kemudian beliau membeli sumur dari orang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin. Namun masih juga banyak yang kekurangan. 

Pada saat itu Hadhrat Usman beserta kafilah dagangnya baru pulang melakukan perdagangan dari Siria dengan membawa berbagai bahan makanan yang terdiri dari biji-bijian dan gandum. Akhirnya beberapa kaum muslimin datang ke rumah Hadhrat Usman untuk membeli gandum dan biji-bijian dengan memberi keuntungan 2 dirham. Hadhrat Usman mengumumkan bahwa ada lagi yang bisa menawar lebih tinggi dari keuntungan 2 dirham?.

Para Sahabat tidak ada yang berani menawar lebih tinggi dari itu. Kemudian Hadhrat Usman menyampaikan bahwa ada yang akan membeli gandum dan biji-bijian ini dengan harga berlipat ganda, siapakah? Dia adalah Allah Ta’ala, sebagaimana janjinya di dalam Alquran :

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَۚ  

Sesungguhnya, Allah swt. telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa mereka dan harta mereka bahwa bagi mereka tersedia surga. (At Taubah, 111)

Dan akhirnya Hadhrat Usman membagikan semua gandum dan biji-bijian untuk membantu kaum muslimin yang sedang mengalami situasi sulit.

Kebaikan adalah Sedekah

Nabi Muhammad saw bersabda bahwa “Semua bentuk kebaikan itu adalah sedekah”. Mengacu kepada hadits tadi Jemaat Muslim Ahmadiyah juga memiliki suatu prohram pengkhidmatan yang terarah dan berkelanjutan, untuk mengkhidmati manusia di manapun berada. Salah satu program yang tengah dilakukan adalah membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok dunia, terutama negara-negara miskin salah satunya di negara Afrika. 

Disana telah dibangun berbagai sarana umum seperti sekolah-sekolah, Rumah sakit, Lumbung Makanan, perbaikan dan pembaharuan pompa air umum, pembangunan rumah layak huni, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menolong dan mengkhidmati manusia, serta memperbaiki kehidupan mereka.

Hadhrat Khalifah, Mirza Masroor Ahmad atba, menyampaikan bahwa “Pengkhidmatan kepada umat manusia merupakan bagian terpenting dari ajaran Islam. Mereka yang bekhidmat adalah termasuk orang-orang yang sangat beruntung karena pengabdian mereka menarik balasan dari Allah Ta’ala.

Lebih lanjut, Hadhrat Khalifah, bersabda “Pekerjaan kemanusiaan yang dilakukan oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah ditujukan sepenuhnya bukan untuk kepentingan sendiri dan tanpa menginginkan balasan dunia apapun. Apa yang dikerjakan tidak hanya sebagai kewajiban moral mendasar dalam membantu sesama, namun juga dikarenakan kenyataan bahwa mengkhidmati umat manusia adalah bagian penting ajaran Islam.”

Hak Manusia menolong sesama Manusia

Hadhrat Khalifah bersabda: “Di Dalam Alquran Karim, Allah Ta’ala berulang kali memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memenuhi hak-hak umat manusia dan untuk menolong mereka yang membutuhkan atau mereka yang ditimpa kesulitan apapun. Alquran secara khusus menekannkan pentingnya membantu anggota masyarakat yang paling lemah atau mereka yang terpuruk dalam kemiskinan atau yang yatim piatu.”

Sebagaimana contoh yang tiada bandingannya yang telah diperlihatkan oleh Yang Mulia Rasulullah saw, Hadhrat Khalifah bersabda “Yang Mulia Rasulullah saw berulang kali bersabda akan keutamaan memenuhi hak-hak manusia. Dan bila kita mengetahui contoh beberkat beliau saw, kita akan melihat bahwa sebisa mungkin dengan setiap cara, beliau mengkhidmati manusia dan selamanya mengorbankan kesenangan beliau demi memenuhi kenyamanan dan kemudahan bagi orang lainnya. Sungguh! Hingga pada suatu peristiwa, Rasulullah saw bersabda bahwa yang paling utama dalam keimanan adalah menginginkan kebaikan dan melakukan hal yang tulus demi sesama serta memenuhi hak-hak mereka.”

Inilah contoh nyata, atas intruksi dan bimbingan dari Hadhrat Khalifah, maka semua Jamaah Muslim Ahmadiyah bahu membahu menyingsingkan lengan tangan dan siap sedia untuk mengkhidmati manusia tanpa membeda-bedakan. Dan hal yang sudah rutin dilakukan adalah ribuan warga Ahmadi terlibat dalam kegiatan donor darah. Demi untuk kemanusiaan.

Istighfar : Kunci Menutupi Kelemahan

Terkadang manusia tidak menyadari akan perbuatan-peruatan yang telah dilakukan, apalagi perbuatan buruk atau dosa, seakan-akan manusia pada ...