Surat Dari Pangeran Charles R


 

Mohon sampaikan ucapan terima kasih dari saya yang paling dalam kepada Jemaat Ahmadiyah Inggris untuk acara Jalsah mereka yang dilaksanakan hari ini 28 Juli- 30 Juli 2023 di Hadiqatul Mahdi, Oaklands Farm, Hampsire.

Saya sangat menghargai pesan anda dan saya menghormati dukungan anda yang terus berlangsung.

Pertemuan ini yang akan datang ini adalah sangat penting. menjadi salah satu yang penting di zamannya.

Saya tertarik karena Yang Mulia Hadhrat Mirza Masroor Ahmad akan hadir di pertemuan ini dan akan memberikan pidato setiap harinya selama pertemuan tiga hari ini.

Untuk itu saya ingin mengucapkan selamat kepada anda sekalian untuk pertemuan yang penuh kenangan dan menyenangkan ini.

Charles R

28 Juli 2023

Janji Ansharullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku berjanji akan berjuang sampai akhir hayatku untuk memperkokoh dan menyebarkan Islam Ahmadiyah serta menjaga kutuhan Nizam Khilafat.

Dalam menunaikan tugas ini aku bersedia untuk memberikan pengorbanan yang sebesar-besarnya.

Aku senantiasa akan menganjurkan dan mengajarkan kepada keturunanku untuk tetap setia kepada Khilafat

InsyaAllah

 

Janji khuddam

 اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اَللّٰهُ وَهْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً اَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutunya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya

Aku berjanji setiap saat bersedia mengorbankan jiwa raga, harta, waktu dan kehormatanku untuk kepentingan Agama, Nusa dan Bangsa.

Aku bersedia menghadapi segala pengorbanan untuk tetap berdirinya Khilafat Ahmadiyah.

Aku akan taat kepada segala keputusan ma'ruf dari Hadhrat Khalifah.

Insya Allah 

Hidangan Istimewa shalat maghrib dan subuh berjamaah

 مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ” (صحيح البخاري، كتاب الأذان).

Di dalam sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah r.a.; Hadhrat Rasulullah Saw bersabda: ‘Barangsiapa yang datang ke Masjid di waktu Fajr ataupun Maghrib, maka Allah Ta’ala akan menyiapkan suatu sambutan ramah tamah yang baik baginya di alam surga al-Jannah sebanyak ia datang ke Masjid, baik di waktu Fajr maupun Maghrib.’ (Bukhari).

Kesederhanaan ala Hadhrat Umar ra

Hidup sederhana merupakan salah contoh perilaku akhlak Rasulullah saw, di dalam diri beliau tidak ada kelezatan yang lebih hakiki selain menikmati keasyikan beribadah kepada Allah Ta’ala.

Begitu erat dan dekatnya hubungan Rasulullah saw dengan para sahabatnya, sehingga para sahabat pun selalu mencontoh apa-apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.

Itulah yang terjadi dalam diri Hadhrat Umar bin Khattab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu senantiasa mengedepankan hidup sederhana. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

suatu kali, putri Hadhrat ‘Umar radhiyAllahu ta’ala ‘anhu yang bernama Hafshah radhiyAllahu ta’ala ‘anha berkata kepada Ayahnya, “Selain dikaruniai Allah Ta’ala dengan keluasan rezeki, Ayah telah diberikan kemenangan dan kekayaan, jadi mengapa Ayah tidak makan makanan yang lebih baik dan memakai pakaian yang lebih baik?”

Hadhrat ‘Umar (ra) menjawab dengan bertanya kepadanya, “Apakah Nabi (saw) tidak menanggung kesulitan besar selama hidupnya? Sejauh saya mampu, saya akan terus menanggung kesulitan, seperti dua orang sebelum saya telah alami, Nabi (saw) dan Hadhrat Abu Bakr (ra), sehingga memungkinkan saya juga dapat menuai berkat karunia yang sama.”

Kemudian Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Anggota keluarga saya hanya berhak atas diri saya dan harta saya. Tetapi mereka tidak berhak atas agama dan amanat saya.”

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz mengutip riwayat dari Hadhrat Ikrimah bin Khalid yang menjelaskan bahwa suatu ketika, anak-anak Hadhrat ‘Umar (ra) dan beberapa orang lainnya berkata kepadanya, bahwa jika beliau makan makanan yang lebih baik, beliau akan menjadi lebih kuat dan lebih mampu memenuhi tugasnya. Hadhrat ‘Umar (ra) mengerti saran baik mereka, namun beliau mengatakan bahwa jika beliau meninggalkan jalan orang-orang sebelum beliau, yaitu Nabi Muhammad (saw) dan Hadhrat Abu Bakr (ra), maka beliau tidak akan dapat mencapai peringkat yang sama.

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz mengutip dari Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra), yang menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad (saw) adalah masa penuh cemas dan bahaya yang dengan melihat pertimbangan itu, Nabi Muhammad (saw) mengajarkan perlunya kesederhanaan, dan mengatakan bahwa saat makan, tidak boleh ada lebih dari satu hidangan lauk. Sebagian dari para sahabat mengikuti ini dengan sangat rigid (kaku dan kukuh), pada kenyataannya, pernah Hadhrat ‘Umar (ra) disajikan dengan lauk cuka dan garam bersama-sama. Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa ini adalah dua hidangan terpisah dan beliau hanya akan mengambil satu. 

Meskipun yang dilakukan Hadhrat ‘Umar (ra) ini merupakan sikap berlebihan yang disebabkan gejolak kecintaan mendalam kepada Rasulullah (saw) dan tampaknya bukan seperti demikianlah yang diinginkan oleh Rasulullah (saw), namun dari contoh ini secara pasti diketahui bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) memandang perlunya kesederhanaan di dalam umat Muslim. 

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) saat itu mengumumkan gerakan Tahrik Jadid. Saat itu jemaat sangat memerlukan dan beliau mencetuskan untuk mengurangi pengeluaran pribadi dan memberikan candah. Dengan karunia Allah Ta’ala, saat ini keadaan telah berbeda sehingga saat ini tidak diharuskan demikian. Namun tetap, hendaknya tidak berlaku berlebih-lebihan.

Hadhrat Masih Mauud as bersabda "kelezatan besar terdapat dalam hal ini. Yakni manusia memahami Wujud Allah, dan mengenali Rasul dengan benar. Manusia hendaknya mencari penghidupan mereka sebatas dapat menjalani hidup ala kadarnya (sederhana). Dan jangan mengejar-ngejar banyak sekali keinginan dunia. (Malfuzhat) 

Hubungan Ruh dan Tubuh adalah Abadi

Orang atheis mengingkari ruh, dan mengatakan bahwa ruh itu tidak ada artinya sedikitpun. Kemudian mereka mengatakan "kebangkitan (di akhirat) tidak ada artinya. Di sini ruh memperoleh pengajaran, lalu apa yang akan dilakukannya di masa mendatang. Ini semua adalah khayalan, dan tidak ada logika di dalamnya".

Jika ruh itu tidak ada artinya sedikitpun. Maka mengapa bila terjadi sesuatu pada tubuh lalu dampaknya timbul pada potensi-potensi batin. Misalnya, jika terjadi luka pada otak, maka akibat kerusakan itu manusia jadi gila, atau daya ingat berkurang.

Ruh orang-orang gila tetap ada, kerusakan yang terjadi adalah pada tubuh. Jika sistim tubuh tidak baik, maka ruh pun menjadi tidak berguna. Ruh tidak dapat berfungsi tanpa tubuh.

Oleh karena itu, ruh senantiasa membutuhkan tubuh. Suatu tubuh yang sistimnya baik, maka kondisi rohaninyapun akan baik. Mengapa pada diri anak-anak kecil belum ada pemahaman tentang akibat-akibat berbagai hal? Sebabnya adalah, di dalam diri mereka potensi itu belum tumbuh secara sempurna.

(Malfuzhat, jld 4, H. 431)

Ihwal Penentuan Suatu Hari Raya Id

Pada artikel kali ini saya ingin menyajikan “Q&A Liqa Ma’al Al Arabiyyah Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV rh. Berkenaan dengan penentuan atau menetapkan suatu hari raya. Berhubung Agama Islam ini tengah menyebar luar ke seluruh penjuru dunia. Apakah harus serempak pelaksanaan hari raya dengan negara Arab Saudi?

Terkait dengan hal ini ada seseorang yang bertanya kepada Hadhrat Khalifatul Masih IV rh yakni: “Besok (Jum’at, 17 Maret 2000) insya Allah kita akan merayakan Idul Adha bersama seluruh Jemaat di UK (United Kingdom). Begitu pula kaum muslimin lainnya. Bagaimanakah hubungannya dengan perayaan Idul Adha di Arab Saudi?”

Hudhur rh bersabda: “Sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia meyakini, bahwa mereka harus mengekor ke Arab Saudi. Oleh karena Arab Saudi merayakan Idul Adha pada hari ini (Kamis, 16 Maret 2000). Maka mereka pun merasa harus demikian.”

“Tetapi ada lagi yang berpendapat, sungguh mustahil untuk mengekor ke Arab Saudi, sebab (dinegaranya) Matahari masih terlihat. Oleh karena itu, Hari Raya Idul Adha haruslah jatuh pada keesokan harinya, yakni tanggal 17 Maret 2000.”

“Jadi, mereka hanya sekedar mengikuti aturan main yang normal belaka. Jemaat Ahmadiyah pun demikian, kita setuju (kepada pendapat yang mengatakan) bahwa Arab Saudi tidak berhak untuk menentukan jatuhnya suatu Hari Raya Id. Mereka menentukannya begitu saja (artificially). Mereka pikir, dikarenakan mereka adalah negara Islam, negara-negara lainnya harus ikut.”

“Itulah sebabnya mengapa kita (Jemaat Ahmadiyah) tidak mengekor kepada Arab Saudi, melainkan mengikuti hasil penelitian di berbagai observarium, yakni berdasarkan kepada apa-apa yang nyata terjadi.”

“Tambahan lagi, sungguh mustahil bahwa semua manusia (diberbagai belahan bumi) melihat sesuatu yang sama. Bumi ini bulat. Siang dan malam datang silih bergantian. Sehingga, satu waktu tertentu di Arab Saudi tentu sangat berlainan dengan keadaan waktu siang dan malam di beberapa bagian Amerika atau Australia, ataupun Jepang misalnya.”

Istighfar : Kunci Menutupi Kelemahan

Terkadang manusia tidak menyadari akan perbuatan-peruatan yang telah dilakukan, apalagi perbuatan buruk atau dosa, seakan-akan manusia pada ...